Sampah Menggunung di Pasar Kramat Jati, Pedagang Keluhkan Bau Busuk

CNN Indonesia
Senin, 30 Mar 2026 09:24 WIB
Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan tumpukan sampah yang menggunung dan tak kunjung diangkut hingga mengganggu aktivitas jual beli. CNN Indonesia/Abdussaleem Muhammad
Jakarta, CNN Indonesia --

Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan tumpukan sampah yang menggunung dan tak kunjung diangkut hingga mengganggu aktivitas jual beli.

"Sekarang makin menyempit jalannya karena sampah menggunung gitu. Dulu masih lega, sekarang kendaraan susah lewat," kata salah satu pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Suratno (52), di Jakarta Timur, Senin.

Dia mengeluhkan kondisi tersebut mengganggu aktivitas jual beli, terutama karena bau menyengat dan akses jalan yang semakin menyempit.

Apalagi, keluhan tersebut datang dari sejumlah pedagang yang setiap hari beraktivitas di sekitar Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Mereka mengaku sudah cukup lama menghadapi persoalan serupa, namun hingga kini belum ada penanganan maksimal.

Tak hanya mengganggu akses, bau busuk dari sampah buah dan sayuran yang membusuk itu juga menjadi keluhan utama. Bau tersebut bahkan masuk hingga ke dalam kios pedagang.

"Kita ini dagang, tapi hawanya bau terus masuk ke dalam. Sangat mengganggu," ujar Suratno.

Selain itu, dia mengatakan kondisi tersebut sangat berdampak terhadap kelancaran distribusi barang di pasar.

Padahal, aktivitas bongkar muat merupakan bagian vital dalam operasional pasar induk yang melayani pasokan pangan ke berbagai wilayah.

Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lainnya, Susanti (49). Dia menilai penanganan sampah di pasar tersebut tidak kunjung membaik, terlebih pedagang terus menjalankan kewajiban pembayaran retribusi kebersihan.

Menurut dia, pedagang dikenakan biaya retribusi sekitar Rp600-Rp900 ribu per bulan, tergantung luas kios. Namun, kondisi lingkungan pasar dinilai tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

"Tidak ada keringanan, padahal sampah numpuk terus. Kita tetap ditagih tiap bulan, bahkan telat sedikit langsung diperingati," tutur Susanti.

Dia juga menyebutkan pedagang merasa dirugikan karena harus menanggung dampak langsung dari buruknya pengelolaan sampah di kawasan tersebut.

Maka dari itu, dia berharap ada langkah cepat dari pengelola pasar maupun pemerintah untuk mengatasi persoalan sampah yang terus berulang.

"Kalau dibiarkan, kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan di lingkungan pasar," ucap Susanti.

Tumpukan sampah di area TPS terlihat menggunung hingga mencapai sekitar enam meter pada Minggu (29/3).

Bahkan, ketinggiannya itu sudah melampaui lampu penerangan jalan di sekitar lokasi. Tidak terlihat adanya aktivitas pengangkutan sampah pada hari itu.

Selain itu, genangan air di sekitar tumpukan sampah juga membuat kondisi jalan menjadi becek dan licin sehingga menambah risiko bagi pedagang maupun pekerja yang melintas di area tersebut.

Pedagang menduga penumpukan sampah itu terjadi karena terbatasnya armada pengangkut menuju TPST Bantargebang. Akibatnya, sampah tidak terangkut secara rutin dan terus menumpuk dari hari ke hari.

(antara/gil)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK