Viral Warga di Sukoharjo Tolak Warung MI Babi, Akses Ditutup Tanah

CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 20:50 WIB
Warga Desa Parangjoro Sukoharjo menolak Warung Mi dan Babi Tepi Sawah, menutup akses dengan tanah.
Ilustrasi. Viral warga di Sukoharjo tutup akses jalan ke warung Babi. (ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Viral warga di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng) menutup akses Warung Mi dan Babi Tepi Sawah dengan tanah.

Dalam video yang beredar di media sosial, tampak akses menuju warung nonhalal itu ditutup dengan gundukan tanah. Gundukan tanah itu berada di bawah spanduk yang bertuliskan penolakan warga terhadap warung tersebut.

Saat ini gundukan tanah itu sudah diratakan dan kendaraan bisa kembali melintas menuju warung. Namun spanduk penolakan warga masih ada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spanduk MMT yang terpasang di ujung gang warung tersebut bertulisan 'WARGA SEKITAR MENOLAK WARUNG NON-HALAL'. Tampak MMT itu terdapat gambar menyerupai kepala babi yang disilang merah.

Pengelola warung Mi dan Babi Tepi Sawah, Jodi Sutanto, mengatakan penutupan itu dilakukan oleh orang tidak kenal pada Kamis (16/4), sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu warung masih tutup karena baru buka jam 12.00 WIB.

"Kemarin orang kami waktu mau keluar, melihat ada dam truk, yang sudah selesai menurunkan tanah. Saat orang kita datang, truk sudah pergi. Akibatnya, menutup akses jalan ke warung kami tertutup," Kata mengutip detikcom, Jumat (17/4).

Dia mengatakan jalan depan warungnya merupakan jalan umum dan satu-satunya akses jalan menuju warungnya. Ia mengaku tidak tahu siapa yang meletakkan tumbukan tanah di tengah jalan tersebut.

Kades buka suara

Dihubungi terpisah, Kades Parangjoro Hardiman, membantah jika tumpukan tanah itu sengaja diletakkan untuk menutup akses warung tersebut. Sebab, tumbukan tanah itu digunakan warga untuk meninggikan jalan.

"Itu tidak ditutup, kebetulan dari warga itu sudah agenda lama mau meninggikan jalannya, mau diperbaiki karena terlalu rendah. Warga mau pengurukan, dan meratakan. Ditinggal tidak, itu mau diratakan juga sama warga. Itu mungkin salah paham mengartikan dengan pemilik warung," kata Hardiman.

Baca berita lengkapnya di sini.

(tim/dal) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]