Menkes: Campak Masih Terganjal Kelompok Antivaksin dan Isu Halal Haram
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap pencegahan penyebaran penyakit campak oleh pemerintah saat ini masih terhambat kelompok penolak antivaksin.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan, meski penyebaran campak saat ini relatif bisa ditangani. Namun, prosesnya masih menghadapi isu halal haram.
"Karena campak ini vaksinasinya kalau saya enggak salah nanti harus tiga kali. Dan yang kedua memang ini ada isu halal haram vaksin ini, jadi sempat ramai dan agak susah masuknya," ujar Budi dalam rapat di Komisi IX DPR, Senin (20/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti halnya DBD, Budi melihat ada tren lonjakan kasus campak pada waktu-waktu tertentu. Di banyak negara, kasus campak yang tingkat penyebarannya 18 kali lipat lebih tinggi dari Covid-19, meningkat memasuki awal tahun.
Kondisi itu disebabkan karena musim dingin, dan tingkat mobilitas warga yang kian intens untuk berkerumun.
"Kalau di kita kan lebih main di luar, enggak hanya ngumpul di satu ruangan tertentu, sehingga pada saat dekat-dekat musim dingin biasanya terjadi kenaikan juga dari campak," kata Budi.
Di Indonesia, lanjut dia, tren kenaikan juga tercatat memasuki awal musim sekolah. Meski pihaknya tak khawatir dengan tingkat fatalitasnya, namun proses terhambat pihak yang menolak vaksin campak.
Menurut Budi, sebagian kelompok yang menolak vaksin campak, sama dengan mereka yang menolak vaksin meningitis bagi masyarakat yang hendak menunaikan ibadah haji.
"Dan sekali lagi susahnya apa, susahnya hanya meyakinkan orang tua bahwa anaknya divaksinasi," kata Budi.
Oleh karena itu, pemerintah, kata Budi, kadang kerap terbantu oleh kasus Kematian campak. Sebab, orang tua yang mengetahui kasus tersebut akhirnya memilih untuk divaksinasi.
"Karena masalah utama di Campak Rubella ini adalah golongan yang tidak percaya ke vaksinasi itu besar sekali ya. Padahal ini justru yang mematikan anak-anak kita," katanya.
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

