Disdikbud Panggil SMA 1 Pontianak Buntut Polemik Cerdas Cermat MPR

CNN Indonesia
Selasa, 12 Mei 2026 10:17 WIB
Polemik penilaian juri Lomba Cerdas Cermat MPR RI di Kalbar mencuat setelah protes dari SMAN 1 Pontianak. Disdikbud Kalbar minta prosedur resmi diikuti.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Barat angkat bicara terkait polemik penilaian juri dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalbar. (CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Barat angkat bicara terkait polemik penilaian juri dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalbar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie mengatakan pihaknya telah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak beserta tim pendamping LCC untuk membahas persoalan tersebut.

"Kami sudah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak dan tim pendamping terkait persoalan ini," kata Faisal, Senin (11/5), dikutip dari detikKalimantan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faisal meminta seluruh pihak tetap mengikuti prosedur resmi yang berlaku dalam perlombaan. Ia menyarankan agar pihak sekolah mengajukan peninjauan ulang kepada panitia penyelenggara.

Menurut Faisal, LCC 4 Pilar merupakan agenda nasional yang diselenggarakan langsung oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia atau MPR RI, sehingga mekanisme penyelesaian keberatan berada di tangan penyelenggara.

"Karena ini kegiatan dari MPR RI, tentu ada mekanisme dan ketentuan yang harus diikuti," katanya.

Faisal menegaskan, pada prinsipnya pihak SMAN 1 Pontianak menerima hasil perlombaan. Namun ia menilai evaluasi tetap penting dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi pada kompetisi berikutnya.

"Kita selesaikan sesuai ketentuan lomba dan semua pihak harus menunjukkan sikap kesatria," ujarnya.

LCC 4 Pilar MPR RI merupakan ajang tahunan yang digelar untuk meningkatkan pemahaman pelajar terhadap nilai-nilai kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kompetisi ini diikuti sejumlah sekolah tingkat SMA sederajat dari berbagai daerah secara nasional.

Dilihat dari video YouTube MPRGOID yang disiarkan langsung 9 Mei 2026, momen kontroversial bermula pada sesi tanya jawab rebutan. Saat itu, pembawa acara melemparkan pertanyaan seputar mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota. Namun untuk menjadi anggota BPK, keterkaitan dengan perwakilan daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?"

Regu C yang mewakili SMAN 1 Pontianak merespons dengan menekan bel lebih dulu, dan melontarkan jawaban mereka.

"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," ucap salah satu perwakilan Regu C.

Kepala Biro Pengkajian Konstitusi Setjen MPR RI, Dyastasita Widya Budi yang bertindak selaku juri, memberikan pengurangan skor minus lima karena jawab Regu C dinilai salah.

Kesempatan menjawab otomatis berpindah. Regu B dari SMAN 1 Sambas kemudian mengambil alih dan melontarkan jawaban yang sama dengan Regu C.

"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," kata perwakilan Regu B.

Namun kali ini juri memberikan nilai 10 karena menganggap jawabannya benar.

"Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10," kata Dyastasita.

Merasa ada kesalahan, siswa dari SMAN 1 Pontianak langsung melayangkan interupsi. Mereka merasa bahwa jawaban mereka sama dengan Regu B.

"Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama," protes perwakilan Regu C.

Merespons keberatan tersebut, Dyastasita bersikukuh membela keputusannya dengan mengklaim bahwa Regu C melewatkan elemen penting dalam jawaban mereka.

"Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi. Jadi Dewan Juri tadi berpendapat nggak ada itu Dewan Perwakilan Daerah,"

Situasi memanas ketika juri lainnya, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR Indri Wahyuni, turut memberikan pernyataan yang memicu kemarahan warganet. Dia justru mengingatkan peserta untuk menggunakan artikulasi yang bagus ketika menjawab.

"Begini ya, kan sudah diperingatkan dari awal ya, artikulasi itu penting ya. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas. Kalau menurut kalian sudah, tapi Dewan Juri menilai kalian tidak karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya itu artinya Dewan Juri berhak memberikan nilai -5. Jadi sekali lagi kami peringatkan artikulasi diperhatikan ya," kata Indri Wahyuni.

(fra/fra) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]