Target Energi Nuklir Indonesia 2032, Mungkinkah?
Anggota International Steering Group, International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) Muhadi Sugiono mengatakan banyak negara mulai melirik tenaga nuklir karena fluktuasi harga dan kelangkaan minyak, serta tuntutan global terhadap energi bersih.
"Saya kira bukan hanya Indonesia, banyak negara di belahan bumi selatan ini mulai memikirkan dan melirik tenaga nuklir," kata Muhadi.
Ia mengatakan perkembangan teknologi saat ini memungkinkan pembangunan instalasi nuklir. menjadi jauh lebih cepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari yang awal butuh waktu 5-6 tahun, kini bisa hanya dengan 2 tahun.
"Tadinya 5-6 tahun itu diperlukan untuk bisa membangunnya, sekarang bisa lebih cepat lagi, mungkin 2 tahun dengan yang namanya Small Modular Reactor itu, SMR," kata dia.
Ia menjelaskan bukan hanya kapasitas yang lebih kecil, pembangunan PLTN dengan teknologi SMR bahkan tidak membutuhkan lokasi statis seperti membangun instalasi nuklir.
Ia mengatakan teknologi SMR lebih fleksibel dan bahkan dapat ditempatkan di kapal
"Jadi untuk pembangunan itu tidak lagi perlu lahan yang statis seperti di tanah gitu ya, instalasi nuklir yang besar. Nah itu yang lama. Nah sekarang Small Modular itu bisa ditaruh di kapal. Sehingga dari sisi itu, target itu bisa jauh lebih cepat," katanya.
Menurutnya, model itu membuat pembangunan PLTN juga tidak harus dilakukan sepenuhnya di Indonesia. Reaktor bisa diproduksi di negara lain lalu dikirim ke Indonesia untuk dioperasikan.
"PLTN itu menjadi alternatif yang setidak-tidaknya punya keunggulan dibandingkan dengan sumber daya alternatif yang lain, yang jelas kapasitasnya besar. Satu reaktor itu bisa bertahan sampai 60-an tahun dan itu dengan bahan bakar yang kecil, dibandingkan dengan misalkan 60 tahun menggunakan batu bara, berapa batu bara dibutuhkan untuk menghasilkan listrik terus-menerus," ujar dia.
Mahal, molor dan mematikan
Di tengah dorongan agar pemerintah membangun PLTN, kritik datang dari Greenpeace Indonesia.
Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Yuyun Harmono mengatakan ada tiga persoalan utama dari rencana pembangunan PLTN, yakni mahal, molor, dan mematikan atau berbahaya.
Menurutnya, pembangunan PLTN tidak masuk akal di tengah harga teknologi energi terbarukan seperti panel surya dan baterai yang turun drastis dalam beberapa tahun terakhir.
"Itu enggak masuk akal membangun pembangkit listrik tenaga nuklir yang harganya jauh lebih mahal, bahkan bisa jadi dia lebih mahal daripada pembangkit listrik yang fosil. Jadi saya enggak ngerti logikanya di mana gitu kenapa kita pengin banget gitu ya membangun PLTN, di tengah harga alternatif energi lain," kata Yuyun.
Ia mengatakan perkembangan teknologi baterai mampu menjadi solusi dari persoalan intermitensi solar panel yang selama ini menurutnya dijadikan alasan untuk mendorong PLTN.
"Jadi kan intermitensi itu seringkali dipakai oleh pemerintah karena solar panel mampu berfungsinya siang hari doang, malamnya enggak. Tapi dengan harga baterai sekarang, turun drastis. Kita bisa simpan kelebihan-kelebihan produksi di siang hari itu menerangi di malam hari," ujarnya.
Greenpeace juga menyoroti potensi molornya pembangunan PLTN. Yuyun mengatakan berdasar sejumlah studi internasional, proyek PLTN rata-rata membutuhkan waktu pembangunan panjang dan berpotensi melewati target.
Padahal, kata dia, kebutuhan transisi energi harus dilakukan cepat.
"Kan, kita perlu cepat nih, transisi energi ini kan perlu cepat. Bandingkan gitu, sangat jauh dengan EBT yang untuk instalasinya enggak sampai setahun tuh pasang solar panel plus baterai," katanya.
Terakhir, Greenpeace juga menyoroti risiko keamanan dari PLTN, terutama karena Indonesia merupakan negara rawan bencana.
Keamanan nuklir sangat penting dipertimbangkan. Sejarah mencatat sejumlah kecelakaan PLTN yang tak hanya memakan korban jiwa manusia, tapi juga meracuni lingkungan dalam radius besar.
Tragedi Chernobyl di Ukraina pada 1986. Ini adalah kecelakaan nuklir terparah di dunia. Ledakan itu menyisakan zat-zat radioaktif yang berbahaya bagi manusia.
Saat peristiwa, korban jiwa memang rendah. Namun, dampak radiasi disebut telah merenggut ribuan jiwa.
Pemerintah Ukraina bahkan harus mengisolasi lokasi PLTN tersebut dengan luas sekitar 2600 km persegi.
Selain di Chernobyl, bencana nuklir juga terjadi di Fukushima, Jepang pada Maret 2011. Reaktor nuklir Fukushima bocor setelah gempa dan tsunami menerjang Jepang.
Tragedi ini mengontaminasi laut, tanah, dan udara di wilayah Fukushima. Radiasi di wilayah itu tercatat masih sangat tinggi.
Data yang dihimpun oleh sebuah robot di pusat fasilitas nuklir Fukushima 2015 silam mengungkapkan bahwa radiasi nuklir di wilayah tersebut masih sangat tinggi dan bisa membunuh manusia hanya dalam waktu satu jam.
Pada 2021, bencana nuklir juga terjadi di PLTN di Catalonia, Spanyol. Setidaknya satu orang tewas dan tiga orang lainnya terluka akibat kebocoran gas karbon dioksida (CO2).
Dalam kasus Indonesia, Greenpeace mengungkap salah satu alasan kekhawatiran terhadap keamanan PLTN.
Yuhun mengatakan PLTN biasanya dibangun di wilayah pesisir untuk kebutuhan pendinginan reaktor. Kontur geografis ini disebutnya rentan terhadap gempa, kenaikan muka air laut, maupun cuaca ekstrem.
"Mematikan karena faktualnya kan memang ketika terjadi kecelakaan di industri nuklir itu, kan, mematikan. Chernobyl itu kan mematikan dan dampaknya dirasakan sampai sekarang juga," katanya
Yuyun berpendapat pemerintah seharusnya lebih fokus mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dibanding mengejar pembangunan PLTN.
"Lebih masuk akal membangun 100 gigawatt PLTS dalam 10 tahun ke depan daripada kemudian bangun PLTN 1 gigawatt dalam 10 tahun ke depan," kata Yuyun.
(yoa/wis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]



