Geliat Pengembangan Nuklir di Indonesia, Dirintis Sejak Era Sukarno

CNN Indonesia
Sabtu, 16 Mei 2026 09:08 WIB
Pengembangan energi nuklir di Indonesia telah dirintis sejak era Presiden Sukarno. Apakah Indonesia siap mewujudkan PLTN pada 2032?
Peneliti BRIN melakukan pengecekan kolam reaktor nuklir di fasilitas Reaktor Serba Guna G.A Siwabessy, di kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (15/7/2024). (Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Pada hari ini, BRIN memiliki tiga kompleks pengembangan nuklir di Indonesia.

Pertama, di Serpong, yakni reaktor Serba Guna GA Siwabessy (RSG-GAS) yang berada di KST BJ Habibie Serpong Tangerang Selatan. Instalasi Reaktor Serba Guna GA Siwabessy merupakan reaktor riset terbesar se-Asia Tenggara dengan kapasitas nominal yang dapat dibangkitkan sebesar 30 MW Thermal.

RSG-GAS berperan dalam layanan rumah sakit, industri, laboratorium, universitas, dan lembaga riset di dalam maupun luar negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Reaktor ini mendukung produksi radioisotop medis dan industri, pengujian material seperti Power Ramp Test, serta penelitian dan pengembangan elemen bakar nuklir.

Selain itu, RSG-GAS digunakan untuk radiografi, analisis aktivasi neutron, dan neutron scattering yang penting bagi berbagai bidang riset.

Reaktor ini juga dimanfaatkan untuk pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia, serta aplikasi khusus seperti pewarnaan batu permata.

Kedua, kompleks fasilitas nuklir itu berada di Yogyakarta, yakni Reaktor TRIGA Kartini. Reaktor ini merupakan reaktor riset non-daya tipe TRIGA Mark II yang digunakan sebagai fasilitas pelatihan, penelitian, pengembangan, dan pendidikan.

Reaktor ini bertipe TRIGA Mark II dan memiliki daya reaktor nominal sebesar 250 kW untuk desain dan 100 kW sesuai izin operasi. Reaktor ini digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk penelitian fisika reaktor, analisis aktivasi, serta pendidikan dan pelatihan.

Terakhir, kompleks fasilitas nuklir di Bandung, Reaktor Triga 2000, pada tahun 1971 daya reaktor ditingkatkan dari 250 kW menjadi 1000 kW dan telah dioperasikan dengan keadaan normal dan aman sampai tahun 1996 untuk tujuan produksi radioisotop, penelitian dan pendidikan. Pada April 1996 dilaksanakan program peningkatan daya dari 1000 kW menjadi 2000 kW.

Dukungan riset

Selain itu, BRIN juga memiliki sejumlah organisasi riset yang membawahi isu pengembangan teknologi nuklir, yakni Organisasi Riset Teknologi Nuklir (ORTN)

Mengutip dari situs resmi BRIN, ORTN merupakan salah satu organisasi riset di BRIN yang berfokus pada riset dan inovasi dalam bidang ketenaganukliran.

ORTN mempunyai tugas yaitu melakukan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi di bidang Ketenaganukliran dan Penyelenggaraan Ketenaganukliran.

ORTN sendiri dibagi menajdi tujuh pusat riset, meliputi Pusat Riset Teknologi Akselerator, Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi, Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir, Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri, Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir, Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif, dan Pusat Riset Teknologi Keselamatan Metrologi dan Mutu Nuklir.

Kepala BRIN Arif Satria menargetkan PLTN di Indonesia akan beroperasi pada 2032 yang diproyeksikan berkapasitas 7 GWe pada 2040 dan 35-45 GWe di 2060.

Ia juga menyampaikan pemerintah telah memasukkan PLTN dalam peta jalan energi nasional sebagai baseload yang handal, aman, terjangkau dan bersih.

"Langkah selanjutnya pemerintah juga tengah menyiapkan NEPIO nuclear energy program implementing organization, serta tapak tapak yang bisa menjadi alternatif pembangunan PLTN sesuai demand yang ada," kata Arif kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/5).

Opsi reaktor nuklir Indonesia

Selain itu, ia menyebut saat ini BRIN tengah mengkaji dan siap mendukung pemilihan teknologi yang aman dan selamat, baik itu SMR (Small Modular Reactors) maupun reaktor skala besar.

Arif juga menyampaikan peralihan ke tenaga nuklir juga makin menemukan relevansinya hari ini.

Ia menyampaikan hal itu bertalian dengan tantangan perubahan iklim, dan kebutuhan beban dasar atau baseload yang andal dan capacity factor tinggi.

Arif menyampaikan PLTN sangat strategis untuk mencapai net zero emission 2060 karena menghasilkan listrik besar dengan emisi rendah.

"Banyak sekali produk-produk juga yang menghendaki supply listrik yang green. Urgensi ini harus diikuti dengan kesiapan regulasi, keselamatan, dan penerimaan publik," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Syaiful Bakhri menjelaskan saat ini BRIN juga memiliki 28 tapak area yang tersebar mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Kalimantan.

Ia menyampaikan BRIN telah meneliti ke-28 tapak area itu yang dinilai berpotensi dibangun PLTN lantaran di sana berpotensi ada demand atau permintaan, lalu daerahnya yang secara seismik, hingga meterologi dan hidrologinya dinilai memenuhi syarat untuk dibangun PLTN.

"Itu tapak PLTN yang kita sodorkan kepada pemerintah sebagai alternatif kalau di situ mau dibangun, nah tapak itu bisa menjadi area PLTN yang memenuhi syarat untuk keselamatan, belum tentu di 28 itu," ucap Syaiful.

Perihal kesiapan sumber daya manusia, Syaiful menyebut Indonesia telah merintis sejak lama.

Ia menyampaikan secara nasional BRIN telah bekerjasama dengan universitas dan politeknik terkait.

Syaiful menargetkan hal itu dapat menjadi peta jalan dan strategi penyiapan SDM PLTN, dari seluruh aspek, baik tenaga kerja konstruksi, operator, supervisor, regulator, tenaga terampil engineer, researcher, dan scientist sejak fase awal perencanaan sampai fase operasi dan dekomisioning.

"BRIN juga telah menyiapkan berbagai skema pengembangan kompetensi dan beasiswa, serta vokasi Poltek nuklir dengan lulusan tiap tahun kurang lebih 100 mahaiswa, siap mendukung pembangunan sampai operasi PLTN," ucapnya.

(wis/mnf/sur) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2