Investasi Fatty Acid di Bontang Genjot Hilirisasi Sawit Kaltim

Advertorial | CNN Indonesia
Minggu, 24 Mei 2026 15:00 WIB
Investasi Fatty Acid di Bontang Genjot Hilirisasi Sawit Kaltim
Jakarta, CNN Indonesia --

Peluang investasi sektor hilirisasi industri berbasis kelapa sawit di Kota Bontang kembali diperkenalkan kepada investor nasional maupun internasional melalui dua proyek pengembangan strategis yang masuk dalam skema Investment Project Ready to Offer (IPRO), yaitu industri Fatty Acid dan Fatty Amine.

Kedua proyek tersebut menjadi bagian dari promosi investasi strategis yang dikembangkan di Kalimantan Timur (Kaltim) untuk memperkuat industri hilir oleokimia nasional, serta meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit Indonesia.

Berdasarkan profil proyek, industri Fatty Acid dan Fatty Amine direncanakan dibangun di kawasan Kaltim Industrial Estate Bontang. Kawasan industri tersebut dinilai memiliki posisi strategis karena didukung akses pelabuhan, jalan logistik, kawasan industri eksisting, serta kedekatan dengan sumber bahan baku utama, infrastruktur energi, dan logistik di Kota Bontang.

Kehadiran proyek ini diharapkan mampu memperluas rantai industri pengolahan kelapa sawit sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri di dalam negeri. Data proyek menunjukkan kebutuhan domestik saat ini masih dipenuhi melalui impor sehingga peluang pengembangan industri dalam negeri dinilai sangat terbuka.

Selain itu, industri oleokimia dunia saat ini berada pada sektor yang terus bertumbuh (growing sector), seiring meningkatnya kebutuhan pasar internasional terhadap produk turunan kelapa sawit bernilai tambah tinggi.

Fatty Acid sendiri merupakan salah satu produk hilirisasi oleokimia yang memiliki permintaan tinggi di pasar global. Produk ini digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, mulai dari kosmetik, deterjen, sabun, plastik, kertas, tekstil, pelumas, makanan, hingga produk perawatan pribadi dan rumah tangga.

Konsumsi produk turunan oleokimia ini diproyeksikan tumbuh rata-rata sekitar tujuh persen per tahun seiring meningkatnya kebutuhan industri manufaktur dan consumer goods, terutama dari kawasan Asia dan Eropa.

Sementara itu, Fatty Amine merupakan produk turunan kelapa sawit yang memiliki nilai tambah tinggi dan banyak digunakan dalam berbagai industri consumer goods sebagai bahan baku pelembut pakaian, deterjen, produk pembersih rumah tangga, kosmetik, hingga kebutuhan industri kimia lainnya.

Permintaan pasar global terhadap Fatty Amine pada 2022 tercatat mencapai sekitar 1,7 juta ton dan diperkirakan terus bertumbuh hingga 2029 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 6,6 persen.

Dari nilai komersialnya, proyek industri Fatty Acid membutuhkan total investasi mencapai Rp3,77 triliun. Proyek ini dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 91,2 ribu ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku utama berasal dari CPO sekitar 45 ribu ton per tahun.

Di sisi lain, proyek industri Fatty Amine membutuhkan nilai investasi sekitar Rp1,88 triliun dengan kapasitas produksi sebesar 20 ribu ton per tahun dan gliserol sekitar 4 ribu ton per tahun. Kebutuhan bahan baku utamanya meliputi CPO/CPKO sekitar 24.500 ton per tahun dan amonia sekitar 3.000 ton per tahun.

Selama ini, Kaltim dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan produksi crude palm oil (CPO) mencapai sekitar 3,8 juta ton per tahun, sehingga dinilai mampu mendukung keberlanjutan pasokan bahan baku kedua proyek tersebut.

Khusus untuk Fatty Amine, pengembangannya memiliki keunggulan strategis tambahan karena berada di wilayah yang dekat dengan produsen amonia dan kawasan industri petrokimia di Kota Bontang.

Dari sisi finansial, kedua proyek menawarkan indikator kelayakan yang menarik bagi investor. Proyek Fatty Acid mencatatkan nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 14,60 persen dengan Net Present Value (NPV) mencapai sekitar USD 985 juta, serta proyeksi periode pengembalian investasi (payback period) sekitar enam tahun delapan bulan.

Sementara itu, proyek Fatty Amine mencatatkan nilai IRR sebesar 16,28 persen dengan NPV mencapai Rp743 miar, dan proyeksi payback period sekitar delapan tahun.

Untuk mendukung keberlangsungannya, kawasan industri ini disiapkan untuk membentuk ekosistem yang terintegrasi dan lengkap. Infrastruktur eksisting telah memiliki pasokan listrik hingga 80 MW, fasilitas air bersih, jaringan telekomunikasi, nitrogen, pengolahan limbah, hingga dukungan utilitas industri lainnya.

Lokasi proyek juga berada dekat dengan Pelabuhan Lok Tuan, Pelabuhan LNG Badak, serta sejumlah akses logistik utama yang mendukung distribusi. Tidak hanya berfokus pada aspek industri, konsep pengembangan kawasan proyek juga diarahkan pada penerapan industri berkelanjutan yang ramah lingkungan melalui penyediaan area terbuka hijau, penggunaan panel surya, konsep green architecture, hingga penerapan sistem smart building.

Pemerintah juga menyiapkan berbagai dukungan kebijakan untuk meningkatkan daya tarik investasi, mulai dari insentif fiskal, kemudahan perizinan, hingga dukungan implementasi sistem perizinan berbasis risiko melalui OSS-RBA.

Terlebih, Kota Bontang memiliki sumber daya manusia yang cukup siap mendukung pengembangan industri manufaktur dan kimia, di mana untuk kebutuhan tenaga kerja operasional Fatty Acid saja diperkirakan mencapai sekitar 300 orang.

Kepala DPMPTSP Kota Bontang menjelaskan bahwa keberadaan proyek ini diharapkan tidak hanya mendorong peningkatan investasi di Kota Bontang, tetapi juga memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai pusat hilirisasi industri berbasis sumber daya alam di Indonesia.

"Selain membuka peluang ekspor produk bernilai tambah, proyek tersebut juga diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, serta memperkuat daya saing industri nasional," jelas Kepala DPMPTSP Kota Bontang.

(adv/adv) Add as a preferred
source on Google