Liku-liku Blok M: Dirancang Belanda, Mati Suri dan Menyala Lagi

CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 08:00 WIB
Sejumlah pengunjung memadati area Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada hari terakhir libur panjang, Minggu (17/5/2026). (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Sejumlah pengunjung memadati area Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada hari terakhir libur panjang. (CNN Indonesia/Febria Adha L).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kawasan Blok M di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan, kuliner, dan ruang interaksi di Jakarta. Tempat ini sempat menjadi primadona bagi kalangan anak muda Jakarta, terutama pada rentang era 1980-an hingga awal tahun 2000.

Meski begitu, roda popularitas kawasan ini tak selalu berputar mulus. Blok M pernah mengalami masa-masa sunyi. Pusat perbelanjaan dan terminal bawah tanahnya sempat kehilangan pamor hingga seolah mati suri.

Kini, siklus tata kota itu kembali berputar. Kawasan Blok M di Jakarta Selatan kembali mencatat peningkatan mobilitas pengunjung. Beroperasinya Moda Raya Terpadu (MRT) serta kehadiran ruang publik seperti Taman Literasi Martha Christina Tiahahu hingga area M Bloc Space menjadikan kawasan ini kembali 'manyala' dan ramai dikunjungi sebagai titik kumpul, terutama oleh generasi muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah pembangunan

Keramaian dan fungsi Blok M sebagai pusat mobilitas warga memiliki rekam jejak yang panjang. Dilansir dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), sejarah pembangunan Blok M sudah dimulai sejak tahun 1940-an pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Kala itu, kawasan Gambir dinilai sudah terlalu padat. Pusat pemerintahan berada di sana dengan keberadaan Istana yang hingga saat ini jadi Istana Kepresidenan.

Sebagai solusi, pemerintah kolonial merancang sebuah kota satelit baru di wilayah Kebayoran. Konsep perumahannya meniru tata ruang taman kota di kawasan elite Menteng, di mana wilayah tersebut dibagi menjadi beberapa blok abjad, mulai dari Blok A hingga Blok S. Dari pembagian tersebut, Blok M ditetapkan sebagai kawasan pusat kota.

Gagasan tata ruang ini terus berlanjut pasca kemerdekaan. Sejarawan Andi Achdian, menjelaskan bahwa setelah pengakuan kedaulatan pada tahun 1949, pemerintah Republik Indonesia melanjutkan rencana besar untuk membangun kota satelit di Kebayoran dengan rancangan yang terintegrasi.

Andi mengatakan, di bawah eksekusi arsitek Mohammad Soesilo, kawasan Kebayoran didesain dengan konsep yang modern.

"Sejarahnya kan yang terutama kan sejak 1949, pengakuan kedaulatan. Terus ada rencana besar waktu itu menjadikan Jakarta jadi ibu kota, untuk membangun satu kota satelit baru di wilayah Kebayoran itu," kata Andi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/5).

Arsitek yang ditunjuk saat itu menurut Andi adalah seorang Belanda. Sementara sebagai pelaksananya merupakan orang Indonesia yakni Mohammad Soesilo.

"Dia diberikan tanggung jawab untuk membangun satu kawasan. Maka wilayah Kebayoran pada saat itu dibangunlah model-model perumahan modern yang terintegrasi," ujar Andi.

Sistem terpadu yang dirancang di Kebayoran saat adalah hunian yang dilengkapi dengan sistem transportasi, kawasan niaga hingga kawasan bisnis (perkantoran).

"Jadi itu adalah sebuah desain modern yang diterapkan di dalam pembentukan kota satelit sejak awal terbentuknya Republik Indonesia ya," ujar Andi

Andi juga mengatakan, Blok M memang sengaja dirancang untuk lebih menonjol dibandingkan dengan blok yang lainnya. Blok M dirancang lengkap dan jadi pusatnya. 

"Memang dia sejak awal kan dirancang sebagai hub-nya ya, sebagai titik node yang menghubungkan wilayah-wilayah lain. Dan Blok M menjadi satu pusat transit dari transportasi untuk di wilayah Jakarta waktu itu. Jadi memang dia lebih menonjol perkembangannya beda dengan misalnya Blok K, Blok G yang kemudian jadi perumahan," ujar Andi.

Pusat pertokoan, "Little Tokyo", dan Lintas Melawai

Memasuki dekade 1970 hingga 1980-an, Kawasan Kebayoran Baru mengalami perkembangan pesat seiring dengan munculnya kelas menengah baru akibat pertumbuhan ekonomi. Hal ini berdampak langsung pada wajah Blok M yang berevolusi menjadi pusat niaga dan hiburan.

"Awalnya pemukiman di kawasan Kebayoran itu diperuntukkan untuk menampung pegawai-pegawai Indonesia baik ada yang jabatan-jabatan tinggi. Jadi mereka adalah kelas menengah baru Indonesia yang menyerap kemakmuran ekonomi dekade 70-an 80-an," ujar Andi.

"Sehingga muncullah sebuah gaya hidup baru yang memberikan tempat untuk leisure buat anak-anak kelas menengah ini," sambungnya.

Merujuk data Kemenpar, perkembangan pesat kawasan ini juga dipicu keberadaan Terminal Bus Blok M dan menjamurnya pertokoan modern. Jalan Melawai mendapat julukan "Little Tokyo" karena banyaknya restoran Jepang di Kawasan tersebut.

Kawasan Melawai juga popular di kalangan ekspatriat Jepang, yang sejak lama bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di Jakarta kala itu.

Bagi kalangan anak muda, Blok M adalah kiblat tren. Kehadiran Aldiron Plaza hingga American Hamburger (AH) menjadi tempat yang sangat ikonis. Puncaknya adalah fenomena kumpul anak muda di Kawasan Melawai.

Menurut Andi, Lintas Melawai pada masa itu sudah berfungsi sebagai ruang publik untuk unjuk status sosial secara langsung.

"Kalau zaman sekarang kan pamernya di medsos. Dulu kan harus tatapan langsung. Jadi orang-orang pakai sepatu yang impor, pakai pakaian yang impor, gaya rambut, pamernya di ruang publik, langsung," ujar Andi.

Add as a preferred
source on Google
Fase 'Mati Suri' Blok M BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2