Liku-liku Blok M: Dirancang Belanda, Mati Suri dan Menyala Lagi

CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 08:00 WIB
Liku-liku Blok M: Dirancang Belanda, Mati Suri dan Menyala Lagi
Warga beraktivitas di kawasan Blok M Hub. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Memasuki awal tahun 2000-an, tren perbelanjaan bergeser dengan menjamurnya mal-mal berskala besar dan berkonsep megah di Jakarta.

Menurut Andi, pergeseran ini menjadi titik awal jatuhnya pamor Blok M. Kawasan ini dinilai tak lagi mampu mengakomodasi selera kelas menengah atas.

"Awal 2000 itu Jakarta ada semacam kebangkitan ekonomi baru. Sebenarnya akhir 90-an itu sudah mulai mal-mal baru kan. Jadi ada pusat-pusat perbelanjaan baru yang mungkin lebih sophisticated ya dibanding Blok M gitu buat orang kaya atau kelas menengah Indonesia," ujar Andi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Realita fase mati suri ini juga sangat dirasakan oleh para pedagang lama di mal bawah tanah Blok M. Faris (31), Pemilik toko pakaian Blok M Fashion yang meneruskan usaha keluarga sejak tahun 1990.

"Semenjak tahun 2013-an itu sudah mulai redup. Cuma habis-habisnya itu di 2018-an, itu sudah banyak yang ditinggalin (oleh pengunjung dan penyewa)," ujar Faris di Blok M Hub, Jakarta Selatan, Rabu (20/5).

Masa redup atau mati suri kawasan Blok M ini mencapai titik terendah ketika pandemi COVID-19 melanda. Pembatasan mobilitas membuat tingkat kunjungan anjlok drastis, memaksa banyak pertokoan di kawasan Blok M tutup karena sepi pengunjung.

Pedagang mie ayam bakso, Amin (38), yang telah berjualan lebih dari satu dekade di kawasan tersebut menyebut fase pandemi merupakan pukulan terberat.

Menurutnya pandemi membuat orang enggan belanja atau jalan-jalan ke Blok M karena tak punya uang. Pengunjung tak juga datang meski diskon sudah diberikan saat itu.

Karena pandemi itu kan krisis global ya. Kalau bagi saya itu kan krisis global tuh semua, enggak nggak bisa berarah lah berjalan," ujar Amin.

Pemulihan melalui infrastuktur dan nilai sejarah

Setelah sempat mengalami masa penurunan, Blok M kini kembali menonjol dalam tata kota Jakarta. Andi mengatakan bahwa faktor utama pemulihan kawasan ini adalah aksesibilitas infrastruktur transportasi, yakni beroperasinya Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta pada tahun 2019 yang terintegrasi dengan halte TransJakarta.

"Transportasi kan menjadi akses, menjadi salah satu syarat berkembangnya sebuah wilayah ya, di mana-mana, secara hukum ekonomi kan. Tanpa akses sebuah wilayah akan mati," kata Andi.

Ia menilai keberadaan MRT dan integrasi TransJakarta membuat Blok M makin berkembang pesat.

Selain kemudahan akses, Andi menyebut kebangkitan Blok M juga sejalan dengan pergeseran gaya hidup anak muda masa kini yang kekinian. Saat ini hubungan antarmanusia tak terbatas wilayah belaka. Koneksi global di era medsos membuat gaung Blok M cepat menyebar. 

Lebih lanjut, ia menyebut kebangkitan kawasan Blok M juga didorong oleh strategi penataan kota yang kini fokus pada pemanfaatan nilai sejarah (heritage). Bangunan-bangunan lama yang dialihfungsikan tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

(ugo/kna/ugo) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2