Krisis Iklim dan Seni Bertahan Hidup di Gang Malaka Jaya Jaktim
Jalan Nusa Indah di Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, tak ubahnya jalan lingkungan di kawasan permukiman ibu kota, Rabu (3/6). Rumah-rumah berdiri rapat di sisi kiri dan kanan jalan yang tak terlalu lebar.
Jalan hanya cukup untuk dua mobil yang berpapasan pelan. Di sejumlah titik, kendaraan yang terparkir di depan rumah membuat ruang jalan menyempit.
Di sepanjang jalan itu, belasan gang bercabang menuju permukiman warga yang lebih padat. Sebagian besar tampak serupa.
Namun, sebuah gapura berkelir kuning dan hijau di mulut Gang 8, mencuri perhatian siapapun yang lewat.
Masuk melewati gapura, pemandangan lorong sempit yang tertata rapi menyambut, lebarnya cuma sekitar 1,5 hingga 2 meter.
Lantai gang dicat dengan garis putih di kedua sisi. Dinding di sebelah kiri dipenuhi dengan mural warna-warni.
Deretan akuarium berlapis keramik biru berdiri memanjang di kanan jalan. Puluhan ikan koi berenang di salah satu akuarium. Sementara lele, nila, bawal berukuran besar bergerak lincah di akuarium lainnya.
Pot-pot tanaman berjajar memenuhi sisi kiri. Sebagian tanaman merambat hingga ke atas, membuat teduh. Terus berjalan, di depan rumah-rumah warga, tong komposter dengan warna berbeda tersusun rapi.
Gang itu berada di RT 08 RW 04, luasnya sekitar 5.400 meter persegi dengan sekitar 40 rumah di dalamnya.
Hampir seluruh area dipantau kamera pengawas atau CCTV. Layar pemantau yang menampilkan rekaman dari berbagai sudut ditempatkan tepat berada di balik gapura.
Wajah RT 08 yang hijau dan tertata itu berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya.
Ketua RT 08, Taufiq Supriadi mengatakan gang itu dulunya gersang. Warga juga belum terbiasa memilah sampah. Taufiq mengambil inisiatif pada 2023 sejak menjabat Ketua RT.
"Jadi awal mulanya ini kan dulu gersang. Warga belum milah sampah. Terus kita kebanyakan nunggu program dari atas," kata Taufiq.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mendatangkan 817 tanaman produktif. Tanaman saat itu diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Taufiq saat itu bertekad mengubah kawasan gersang dan berbeton, menjadi lebih adem.
Pemberitaan soal kawasan itu mulai naik, yang kemudian memancing berbagai bantuan dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk datang. Dari situ, pengembangan dilakukan secara bertahap.
"Bikin adem, oksigennya banyak, warganya enggak stres, kan gitu. Terus pemberitaan naik, orang mulai banyak datang," ujarnya.
Setelahnya pembuatan akuarium yang disebut "kolam gizi warga". Ikan Lele, Nila, Mujair hingga Bawal dibudidayakan. Ikan-ikan di kolam itu diperuntukkan bagi balita dan lansia secara gratis.
Selain ikan di akuarium, budidaya Ikan Lele dilakukan di saluran-saluran air di depan rumah warga, termasuk rumah Taufiq.
Saluran itu dimodifikasi sehingga dapat berfungsi sebagai kolam budidaya sekaligus tetap mengalirkan air.
Ide untuk memanfaatkan selokan itu didapat dari pengalaman pribadinya saat berada di Jepang.
Setidaknya, ada 12 kolam lele di saluran air, dengan masing-masing menampung sekitar 1.000 ekor lele tiap kolamnya. Lele yang dibudidaya di saluran air ini diperuntukkan untuk komersil.
Biasanya, kelompok ibu-ibu mengolah hasil budidaya tersebut menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti abon lele, lele marinasi, hingga lele beku.
"Jadi penghasilannya ada, itu nanti kelompok tani kebagian, kas RW kebagian, kas RT setempat kebagian. Terus kas rumah yang di depannya ada kolam lelenya juga kebagian. Termasuk yang kerja juga kebagian," ujar dia
Salah satu permasalahan di lingkungan padat penduduk adalah sampah, Taufiq sadar betul soal itu. Pengelolaan sampah menjadi salah satu yang menjadi fokus.
Seluruh sampah yang dihasilkan warga diupayakan dikelola di dalam lingkungan RT.
Sampah nonorganik dikumpulkan melalui Bank Sampah Gunung Emas. Warga dapat menyetorkan sampah nonorganik yang memiliki nilai ekonomi.
Sementara itu, sampah organik dimasukkan ke kandang maggot (belatung). Maggot kemudian digunakan untuk pakan ikan dan ayam petelur yang juga dibudidayakan.
Taufiq mengatakan dari tempat sempit, warga berusaha menghabiskan sampah sejak di rumah
"Kemudian ada kandang maggot. Maggotnya nanti ke ayam, ke ikan. Kas gotnya ke tanaman. Ayam dapat telur, telur balik ke masyarakat. Cangkang telurnya masuk ke kandang ayam lagi atau ke tanaman. Ayamnya punya telur lagi, cangkang telurnya ke tanaman lagi, ke ayam, telurnya dimakan orang," kata dia.
Selain budidaya ikan dan pengelolaan sampah, RT 08 juga mulai memanfaatkan energi terbarukan.
Lihat Juga : |
Sebanyak 19 panel surya dengan kapasitas sekitar 10.000 watt dipasang di atas rumah Taufiq melalui bantuan program CSR.
Listrik dari panel surya tersebut digunakan untuk mengoperasikan berbagai alat di lingkungan RT itu.
"Jadi itu listriknya akuarium, kolam lele di saluran air di RT 11 juga saya kasih. Terus lampu-lampu yang tidak di-cover PJU, pompa pendorong, pompa penarik, aerator, kemudian mesin pencacah daun juga saya siapkan tuh," katanya.
Living laboratory
Pada Maret 2025, Kementerian Lingkungan Hidup meresmikan Media Percontohan Pembelajaran Pencegahan Krisis Planet di gang sempit ini.
Sebanyak 40 item pencegahan krisis planet dan 817 tanaman produktif tertata di lokasi itu.
40 item itu di antaranya adalah Kolam Gizi Warga, Kolam Ikan Hias, Tanaman Anggur, Tanaman Produktif, Tanaman Hias, Tanaman Obat Keluarga (TOGA), Taman Gantung dan Akuaponik.
Lalu Lampu Hemat Energi (LED), Lampu Tenaga Matahari, Lubang Resapan Biopori di Tanah (Sampah & Air), Pengelolaan Sampah ke Komposter, Resapan Biopori di Selokan dan banyak item lainnya.
Taufiq menyebut RT 08 sebagai "living laboratory" atau laboratorium kehidupan di tengah perubahan iklim.
"Living laboratory, laboratorium kehidupan. Karena, cara bertahan hidup di Indonesia, di beton beton padat penduduk, sudah kami lakukan 2,5 tahun ini. Isu sampah, memilah sampah, kami sudah lakukan 2,5 tahun yang lalu," kata dia.
Menurutnya, konsep yang diterapkan di RT 08 sangat mungkin direplikasi di wilayah lain.
Para ketua RT harus bisa mengidentifikasi kebutuhan apa yang paling bisa dilakukan di tempat mereka masing-masing.
"Kalau saya kan karena warga terlalu banyak nunggu program dari atas, saya harus bergerak dari bawah. Terus karena gersang saya harus hijaukan, karena triple bottom line harus hidup makanya bagaimana people, budaya harus berubah, bagaimana profit, perut harus kenyang, bagaimana planet lingkungan dijaga, saya orientasi utamanya ya tiga-tiganya ini harus bergerak bersama-sama," katanya.
Ia mengatakan pengembangan berbagai hal di lingkungan itu sejak 2023 bukan program asal comot, namun telah tersistem.
Dengan begitu, program tetap berjalan meski suatu saat dirinya tidak lagi menjadi ketua RT.
"Makanya saya membuat sistem. Kalau nanti saya diganti, sistem ini kan tetap udah jalan," katanya.
(yoa/wis)