Firdaus Oiwobo Laporkan Eks Ketua BEM UGM Tiyo ke Polres Tangsel
Firdaus Oiwobo melaporkan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto ke Polres Metro Tangerang Selatan (Tangsel).
Laporan itu dibenarkan Kasi Humas Polres Tangerang Selatan, Ipda Yudhi Susanto. Kata dia, laporan tersebut dilayangkan pada Senin (15/6) lalu.
"Benar, benar ada LPnya (Laporan Polisi)," kata Yudhi saat dikonfirmasi, Rabu (17/6).
Kendati demikian, Yudhi belum membeberkan ihwal duduk perkara dalam laporan yang dilayangkan Firdaus terhadap Tiyo tersebut.
"Kalau itu kita belum bisa pastiin. Nanti kan dari hasil pengembangan, penyelidikan sama mekanisme gelar," ucap dia.
Yudhi hanya menyebut saat ini laporan tersebut masih diselidiki oleh Satreskrim Polres Metro Tangerang Selatan.
"Saat ini tim Satreskrim (Polres Tangsel) sedang melakukan penyelidikan untuk mengungkap perkara ini, untuk membuat rencana tindak lanjut ke depannya," tuturnya.
Sebelumnya nama mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto tengah menjadi perhatian publik buntut kritik yang disampaikannya terhadap pemerintah.
Terbaru, Tiyo mengaku menemukan dua unit alat pelacak di bawah kerangka dan ban mobil yang ia kendarai.
Dalam keterangannya, Tiyo merinci kronologi penemuan alat pelacak yang ia duga sudah terpasang sejak Jumat (12/6) itu.
Tiyo menceritakan dirinya berangkat dari Kudus ke Kota Semarang, Jawa Tengah pada Jumat pukul 14.00 WIB kemarin mengendarai mobil Toyota Fortuner milik saudaranya. Sesampainya di sana, ia menginap di sebuah hotel daerah Tembalang dan sempat menyambangi beberapa tempat.
Pada Sabtu pagi, Tiyo menghadiri acara diskusi di Balai Penjamin Mutu Provinsi Jateng yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Semarang. Di sana, ia sudah mendapati beberapa orang tak dikenal yang menguntit dan secara terang-terangan memotretnya.
Selepas kegiatan atau sekitar pukul 12.30 WIB, Tiyo berangkat ke Yogyakarta untuk ikut dalam demonstrasi di Pertigaan Gejayan, Sleman, DIY.
Pada saat perjalanan Semarang-Yogya, Tiyo menyadari ada sejumlah notifikasi masuk ke handphone miliknya. Tiyo mengabaikannya karena sedang menyetir.
Setelah selesai ikut aksi di Gejayan atau antara pukul 20.00 WIB dan 21.00 WIB, ponselnya kembali memunculkan notifikasi dari sebuah pelacak bernama PBX Finder yang bergerak bersamanya.
Siang keesokan harinya atau Minggu (14/5) sekitar pukul 12.00 WIB, Tiyo berangkat kembali ke Semarang sambil membawa PBX Finder tadi. Hanya saja, saat itu ponselnya masih mendapatkan notifikasi serupa saat dia mengetahui ada pelacak yang bergerak bersamanya.
Tiyo waktu itu berpikiran, alat pelacak belum mati karena ia kurang lama merendamnya di air. Dia lagi-lagi mengabaikannya dan menyerahkan alat tersebut ke salah seorang rekannya di Semarang.
"Setelah saya pindahkan, saya menuju bandara. Loh kok notifikasi itu masih muncul lagi. Kami cari lagi dan ternyata kami temukan dalam bentuk lain yaitu lingkaran pipih ditempel menggunakan isolasi, lakban gitu hitam di bagian ban kanan belakang," beber Tiyo.
Pemikiran Tiyo, alat pertama yang ia temukan dalam kondisi bersih, sehingga ia menduga bahwa perangkat tersebut baru dipasang saat berada di Yogyakarta.
Namun, untuk alat terpasang di ban atau perangkat kedua yang ia temukan melalui notifikasi PBX Finder pada ponsel, ternyata sudah dipasang sejak Jumat 12 Juni 2026. Alat itu terakhir kali dicek oleh pemiliknya pada pukul 19.55 WIB atau ketika Tiyo masih berada di hotel daerah Tembalang
(dis/fra)