Cerita Bekas Pecandu yang Terlahir Kembali di Ruang ICU
Kisah kelam yang menjerat Tio bukanlah anomali tunggal, melainkan cerminan dari darurat narkotika yang kian mengganas di Indonesia.
Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat angka penyalahgunaan narkotika di Indonesia saat ini telah menembus angka 4,9 juta orang.
Mirisnya, jeratan candu ini didominasi oleh generasi muda di usia produktif, khususnya pada rentang usia 15 hingga 24 tahun-usia di mana Tio pertama kali menenggelamkan masa depannya ke dalam lintingan ganja dan tablet psikotropika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tren penyalahgunaan di kalangan pelajar dan remaja belakangan pun kian mengkhawatirkan, dengan media baru seperti rokok elektrik yang disalahgunakan untuk menyebarkan zat psikoaktif jenis baru (NPS) secara senyap.
Sabu dan psikotropika seperti Dumolid serta Calmlet yang dikonsumsi Tio bekerja dengan cara yang destruktif pada sistem saraf pusat.
Kementerian Kesehatan telah merilis bahwa zat-zat ini memaksa otak melepaskan hormon dopamin secara drastis untuk memicu euforia instan, namun efek jangka panjangnya merusak struktur kognitif, mengacaukan regulasi emosi, hingga memicu psikosis-kondisi hilangnya arah dan identitas diri. Kerusakan otak ini sering kali permanen.
Lihat Juga :![]() HARI ANTINARKOTIKA DUNIA Jejak Aparat di Pusaran Bisnis Narkoba |
Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta mencatat bahwa komplikasi fisik dan mental akut akibat overdosis atau putus zat menjadi faktor utama yang merusak fokus, konsistensi, dan disiplin hidup para korban.
Ketika zat kimia tersebut telah merusak mental, benteng pertahanan terakhir yang tersisa hanyalah rehabilitasi.
Namun, memutus rantai candu secara total di Indonesia bagaikan berjalan di atas duri.
Laporan akhir tahun BNN Provinsi DKI Jakarta mencatat lonjakan jumlah pengguna yang direhabilitasi sepanjang tahun 2025 menjadi 8.865 orang, naik tajam sebanyak 24,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 6.718 orang.
Sayangnya, tingginya angka rehabilitasi ini tidak berjalan beriringan dengan tingkat kesembuhan mutlak.
Kemenkes dan RSKO kerap menggarisbawahi tingginya angka relapse (kambuh kembali) pada mantan pecandu akibat minimnya sistem pendukung lingkungan, stigma sosial, serta keterbatasan kapasitas pemulihan panti rehab itu sendiri.
Perjuangan sunyi para ibu tunggal seperti Maria, yang terseok-seok mengantar anaknya keluar masuk panti tanpa dukungan keluarga besar yang telanjur menjauh, menjadi potret nyata dari betapa mahalnya harga sebuah kepulihan dari jerat candu mematikan.
Terlahir kembali
Selepas kecelakaan di flyover Tanjung Barat itu, ketika Tio berhasil melewati masa komanya, Angga datang menjenguk dengan membawa uang donasi Rp20 juta yang digalang dari orang-orang yang ternyata masih peduli.
Di bangsal rumah sakit, keduanya saling beradu pandang. Tio tampak mengerutkan dahi, berpikir luar biasa keras mencoba mengingat pria di depannya, hingga air matanya tumpah.
"Dia kayak tahu rasanya. Tapi enggak bisa nginget siapa. Tapi rasanya ada," kenang Angga emosional.
Hantaman di kepala Tio rupanya telah menghapus seluruh trauma, dendam, dan perangai buruknya. Tio terbangun sebagai manusia yang sepenuhnya baru. Ia tak lagi memanggil Angga dengan nama panggilan masa kecil mereka.
"Manggilnya aku-kamu. Dari situ gue menilai bahwa oh ini akan di-restart. Tapi bahwa dia selamat itu jadi mukjizat besar," kata Angga.
Maria pun merasakan mukjizat yang sama di rumah. Putranya yang dulu liar kini berbicara dengan intonasi yang begitu santun.
Bahkan, ada batasan sopan santun baru; Maria kini harus mengetuk pintu kamar terlebih dahulu hanya untuk sekadar menyapa anak kandungnya sendiri.
Kini, Tio menghabiskan 24 jam waktunya bersama sang ibu, sesekali membantunya bekerja menjual properti. Ia juga telah menghapus seluruh kontak lama di ponselnya, dan hanya menyisakan nomor Angga.
Sisa-sisa kerusakan zat kimia itu masih membekas di tubuh Tio. Bibir, gusi, dan giginya tampak cokelat kehitaman, bahkan geraham kiri atasnya sudah tanggal akibat zat kimia yang dikonsumsinya.
Namun seluruh masa lalunya yang hitam telah terkunci rapat di balik dinding koma. Tio melihat masa lalunya sebagai sebuah kebodohan dari orang asing yang tidak ia kenal lagi.
Bagi Maria, kehilangan sosok Tio yang lama di dalam ruang koma adalah berkah terbesar dalam hidupnya.
"Sehancur-hancur saya, saya enggak akan mau balik lagi ke sana. Karena dia enggak kenal dirinya siapa," tutup Maria dengan keteguhan seorang ibu.
(gil) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
