Cerita Warga Tasikmalaya Bertahan Hidup dari Air Masjid Saat Kemarau
Pagi belum sepenuhnya terang saat halaman Masjid Jami Al Ihsan di Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, mulai dipenuhi warga, Minggu (28/6). Puluhan jeriken dan galon tersusun rapi di pelataran masjid. Satu per satu warga mengantre dengan sabar demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Selama sekitar dua bulan terakhir, masjid itu tak hanya menjadi tempat ibadah. Bagi ratusan keluarga di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat, Masjid Jami Al Ihsan telah menjelma menjadi satu-satunya sumber air yang masih bisa diandalkan di tengah kemarau.
Kekeringan yang melanda kawasan tersebut membuat sumur-sumur warga tak lagi mengeluarkan air. Kondisi itu memaksa mereka datang setiap pagi dan sore ke masjid untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari memasak hingga mandi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Air sumur sudah mulai kering dari akhir April. Dulu paling dalam tiga meter sudah keluar air. Sekarang digali 10 meter juga enggak ada. Jadi kami ambil air ke masjid," ujar Dedeh Rohayati, warga Dusun Cipari mengutip Detik.
Hal serupa dirasakan Yayah, warga lainnya. Menurutnya, hampir dua bulan tanpa hujan deras membuat seluruh sumber air di sekitar permukiman mengering.
"Sudah kering sumur di rumah. Sumber air dari gunung masuknya ke masjid. Maka kami antre tiap pagi sore ke masjid ambil air," katanya.
Meningkatnya jumlah warga yang mengambil air di masjid sempat menjadi dilema bagi pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Di satu sisi, mereka ingin membantu masyarakat yang kesulitan air. Namun di sisi lain, ketersediaan air untuk keperluan ibadah juga harus tetap terjaga.
Ketua DKM Masjid Jami Al Ihsan, Uun Suhendar, mengatakan pihaknya akhirnya memutuskan tetap membuka akses air bagi warga dengan menerapkan aturan pengambilan air dihentikan 10 menit sebelum azan salat lima waktu berkumandang.
"Sebetulnya mengganggu karena air untuk wudu juga terbatas. Tapi bagaimana lagi, kami izinkan untuk kebutuhan masyarakat. Sepuluh menit sebelum azan jangan ambil air di masjid supaya cukup untuk wudu," ujar Uun.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena air merupakan kebutuhan paling mendasar dan hingga kini belum ada sumber lain yang dapat dimanfaatkan warga.
"Ya kami izinkan karena ini kebutuhan dasar, yaitu air. Insyaallah aktivitas ibadah tetap aman," tambahnya.
Berdasarkan data Pemerintah Desa Kertanegla, sebanyak 600 hingga 700 kepala keluarga terdampak krisis air bersih. Warga dari dua dusun harus berjalan kaki sambil membawa jeriken menuju masjid setiap hari untuk mendapatkan pasokan air.
Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, mengatakan kekeringan bukanlah persoalan baru di wilayahnya. Setiap musim kemarau, Dusun Cipari dan Dusun Cipatat hampir selalu mengalami krisis air bersih.
"Ada dua dusun yang terdampak kekeringan, yaitu Dusun Cipari dan Dusun Cipatat yang ditinggali sekitar 600 kepala keluarga. Sumber air satu-satunya disalurkan ke masjid. Warga mengantre di sini dan pengambilan air dibatasi," ujarnya.
Untuk memastikan seluruh warga mendapat bagian, setiap keluarga kini hanya diperbolehkan mengambil dua hingga tiga jeriken air setiap hari.
Pemerintah desa, kata Bunyamin, telah melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan berharap bantuan distribusi air bersih dari BPBD segera dikirimkan. Namun hingga akhir Juni, bantuan tangki air yang dinantikan warga belum juga tiba.
Selain bantuan darurat, warga juga berharap ada solusi permanen agar persoalan kekeringan yang terus berulang setiap tahun dapat diatasi.
"Musim kemarau masih berlangsung dan sumber air di wilayah kami belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali mengalir. Kami butuh bantuan sekarang juga. Bantuan yang permanen misalnya dibangunkan sumur bor supaya kebutuhan air warga terjaga," kata Bunyamin.
Selama hujan belum turun dan sumber-sumber air belum kembali mengalir, Masjid Jami Al Ihsan akan tetap menjadi denyut kehidupan warga Desa Kertanegla. Tempat yang selama ini menjadi ruang untuk bersujud itu, kini juga menjadi harapan terakhir ratusan keluarga untuk bertahan menjalani hari.
(tis/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

