Polisi Usut Kematian Dokter PPS Unsrat Meski Tanpa Laporan Keluarga
Kepolisian menyelidiki kasus kematian dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesial (PPDS) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado, Sulawesi Utara (Sulut) yang mengalami depresi berat setelah diduga menjadi korban perundungan atau bully, meski belum ada laporan dari pihak keluarga.
"Kami telah melakukan serangkaian langkah penyelidikan," kata Kasat Reskrim Polresta Manado, Kompol Elwin Kristanto dalam keterangannya, Rabu (8/7).
Dalam proses penyelidikan tersebut, kata Elwin bahwa Satreskrim Polresta Manado telah berkoordinasi dengan pihak RSUP Prof Dr Kandou Manado, khususnya Instalasi Forensik guna memperoleh informasi mengenai penanganan jenazah korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyelidikan ini mulai dari menelusuri informasi yang beredar di media sosial, berkoordinasi dengan pihak rumah sakit, mengumpulkan dokumen, hingga meminta keterangan dari sejumlah pihak," ungkap Elwin.
Berdasarkan keterangan pihak forensik, terhadap jenazah korban hanya dilakukan pemeriksaan fisik luar sesuai permintaan keluarga. Namun, tidak mengajukan mengajukan permintaan autopsi.
"Seluruh informasi yang berkembang, termasuk dugaan adanya perundungan, masih kami dalami dan belum dapat disimpulkan sebagai fakta," katanya.
"Penyebab pasti kematian secara medis belum dapat dipastikan secara menyeluruh," imbuh Elwin.
Selain itu, kata Elwin, pihak keluarga hingga saat ini belum membuat laporan polisi secara resmi terkait dugaan perundungan maupun dugaan tindak pidana lainnya.
"Kami tetap melakukan pendalaman terhadap seluruh informasi yang beredar. Apabila nantinya ditemukan fakta, alat bukti, maupun unsur pidana yang cukup, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," katanya.
![]() |
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
