Menelusuri Nama Sunda dan Jawa Barat, dari Zaman Es hingga Kemerdekaan

CNN Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026 06:15 WIB
Wacana penggantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda tengah bergulir kembali.
Foto Gedung Sate di masa lalu. Gedung peninggalan kolonialisme Belanda yang kini jadi Kantor Gubernur Jawa Barat di Kota Bandung. (Dok. id.wikipedia.org (Merbabu)

Kembali ke masa kini, Ganjar menerangkan usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat pertama kali dicetuskan dalam Kongres Sunda yang diadakan di Bandung pada Oktober 2020. Dia mengatakan Jika Jawa Barat menjawab pertanyaan tentang administrasi, maka Sunda menjawab pertanyaan tentang ruang hidup dari para penghuninya.

Oleh karena itu, gagasan Provinsi Sunda perlu ditempatkan dalam kerangka identitas kewilayahan yang tidak selamanya sama dengan identitas genealogis.

"Identitas genealogis berkaitan dengan garis keturunan, sedangkan identitas kewilayahan berkaitan dengan ruang hidup, sejarah tempat, bentang alam, nama lokal, dan memori masyarakat," kata dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ganjar menuturkan provinsi Sunda bukan berarti provinsi hanya untuk orang yang secara biologis bersuku Sunda.

Sebaliknya, Provinsi Sunda dapat dimaknai sebagai nama ruang hidup yang sudah membentang lama bagi siapa pun yang tinggal, bekerja, berkarya, dan berkontribusi di wilayah ini.

Era Kerajaan

Sebelum itu, kawasan ini lebih dikenal sebagai Tatar Sunda atau Pasundan yang menjadi pusat perkembangan budaya dan peradaban masyarakat Sunda.

Pada laman jabarprov.go.id yang merupakan website resmi pemerintah provinsi Jabar, disebutkan wilayah Tatar Sunda telah berkembang sejak abad ke-5 saat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara.

Kerajaan Hindu tersebut meninggalkan sejumlah prasasti berbahasa Sanskerta yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat sebagai bukti awal keberadaan pemerintahan di kawasan tersebut.

Memasuki abad ke-8, setelah runtuhnya Tarumanegara, kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda atau Pajajaran yang berpusat di Pakuan Pajajaran, kini Kota Bogor. Pada masa inilah identitas Sunda semakin mengakar sebagai penanda wilayah dan kebudayaan.

Perubahan mulai terjadi pada abad ke-16 ketika pengaruh Kesultanan Demak berkembang di pesisir utara Jawa. Pelabuhan Cirebon melepaskan diri dari Kerajaan Sunda dan berkembang menjadi Kesultanan Cirebon. Tidak lama kemudian, Banten juga berpisah dan tumbuh menjadi Kesultanan Banten sehingga mengubah peta politik di kawasan barat Pulau Jawa.

Era kolonialisme Belanda

Penamaan Jawa Barat sendiri bisa dikenal sebagai identitas administratif pada masa kolonialisme Belanda.

Pada era kolonialisme itu sebelum 1925, Jawa Barat disebut resmi sebagai Soendalanden atau Pasoendan oleh penguasa kolonial Belanda. Wilayah itu mencakup seluruh dataran di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy, serta terdiri atas lima keresidenan.

Lima keresidenan itu adalah Priangan (Preanger Regentschappen), Bogor (Buitenzorg), Cirebon (Cheribon), Jakarta (Batavia), dan Banten (Bantam).

Kemudian setelah 1926, kolonialisme mengganti nama resmi Pasoendan itu jadi Provincie West-Java yang dipimpin Gubernur (Gouverneur). Gubernur Pertama Jawa Barat era Hindia Belanda adalah Willem Pieter Hillen. Perubahan nama jadi Provincie West-Java itu tercantum dalam Staatsblad atau UU era Hindia Belanda nomor 78 Tahun 1925.

Hal itu jadi bagian dari pelaksanaan Bestuurshervormingwet 1922 yang membagi Hindia Belanda ke dalam wilayah-wilayah provinsi.

Sejak saat itu, nama Jawa Barat menjadi identitas resmi wilayah administratif.

Era kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 19 Agustus 1945 menetapkan Jawa Barat sebagai satu dari delapan provinsi pertama di Indonesia. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2010.

Dalam perjalanan pascakemerdekaan, Jawa Barat juga sempat menjadi Negara Pasundan sebagai salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) sebelum akhirnya kembali menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1950.

Sebelumnya wilayah Jawa Barat meliputi Banten di paling barat hingga Cirebon-Kuningan-Banjar-Ciamis-Pangandaran di bagian timurnya. Namun, sejak 2000 silam, Banten berpisah sebagai provinsi sendiri lewat pemekaran daerah. Di antara Banten dan Jawa Barat itu terdapat DKI Jakarta yang merupakan provinsi ibu kota RI.

(kid/csr/ugo) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2