Gunung Karangetang Erupsi, Warga Diminta Jauhi Zona Bahaya

CNN Indonesia
Senin, 13 Jul 2026 16:45 WIB
Semburan erupsi Gunung Karangetang menyebabkan alang-alang di sekitar puncak terbakar dan terpantul di atas awan kabut sehingga nampak seperti api besar. (ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar)
Makassar, CNN Indonesia --

Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara mengalami erupsi, Minggu (12/7) malam.

"Berdasarkan keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi ini diawali dengan erupsi bertipe strombolian (eksplosif lemah) setinggi sekitar 100 meter diikuti suara dentuman, lontaran material pijar jatuh di sekitar kawah," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Senin (13/7).

Muhari menuturkan aktivitas Gunung Karangetang terjadi pada Minggu (12/7) sekitar pukul 19:14 WITA, kemudian diikuti erupsi efusi berupa aliran lava ke arah utara sejauh 1000 meter dari kawah utara dan 400 meter ke barat-barat daya serta 1000 meter ke arah selatan.

"Pantauan BPBD Kabupaten Sitaro semalam menunjukkan material panas lemparan dari letusan menyebabkan alang-alang di sekitar puncak terbakar dan terpantul di atas awan kabut sehingga nampak seperti api besar," ungkapnya.

Kemudian pada hari ini, kata Muhari, BPBD setempat melaporkan terjadi kebakaran ilalang di sekitar puncak gunung, namun berhasil dipadamkan.

"Personel BPBD Kabupaten Sitaro tetap siaga memantau dinamika alam dan cuaca untuk meminimalkan potensi karhutla akibat kejadian erupsi gunung api. Pemerintah daerah setempat juga telah mengeluarkan surat imbauan kepada warga agar tetap waspada dengan dinamika alam yang mungkin terjadi," jelasnya.

Aktivitas harian masyarakat pada hari ini dilaporkan tetap berjalan dengan normal dan seperti biasanya. Status gunung tersebut juga masih dilaporkan berada di status level II atau waspada.

Gunung Karangetang memiliki ketinggian 1.784 meter di atas permukaan laut ini mengalami peningkatan aktivitas sejak awal bulan Juli tahun ini. Selama periode 1-11 Juli, terekam 12 kali gempa guguran, 83 gempa hembusan, 7 kali tremor harmonik, 32 kali tremor non-harmonik, 10 kali gempa hybrid/fase banyak.

Kemudian 41 kali gempa vulkanik dangkal, 21 kali gempa vulkanik dalam, 3 kali gempa tektonik lokal, 4 kali gempa terasa pada skala I-III MMI dan 127 gempa tektonik jauh.

"Dengan catatan aktivitas tersebut, PVMBG menyatakan tingkat aktivitas masih dalam level II atau waspada. Status aktivitas gunung ini belum berubah sejak 11 Januari 2025," katanya.

BNPB mengimbau masyarakat yang berada di sekitar wilayah kawasan rawan bencana untuk mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh otoritas terkait.

"Masyarakat dan wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2.5 km," tuturnya.

Selain itu, Muhari meminta masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

"Waspadai pula guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya," katanya.

(mir/isn)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VIDEO: Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Kota Palu

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK