ICCF 2026: Indonesia-China Sinergi Teknologi Medis & Gizi Atasi Kanker

Advertorial | CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 14:00 WIB
ICCF 2026: Indonesia-China Sinergi Teknologi Medis & Gizi Atasi Kanker
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 yang digelar di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta hadir sebagai wadah kolaborasi antara pakar onkologi, tenaga medis, dan pemangku kebijakan kedua negara dalam upaya penanganan kanker yang menuntut respons cepat.

Data yang menunjukkan angka kasus baru kanker di Indonesia mencapai lebih dari 400 ribu jiwa per tahun, mendorong pendekatan penanganan yang komprehensif, baik dari penggunaan peralatan medis mutakhir maupun manajemen kualitas hidup pasien.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya pertukaran praktik terbaik, baik dalam pengembangan teknologi maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

"Forum ini menjadi wadah bertukar informasi. Keunggulan masing-masing negara dapat dipelajari bersama, termasuk pengalaman dan praktik terbaik dalam penanganan kanker," ujar Menkes.

adv publikasimedia

Integrasi Gizi Klinik untuk Penanganan Kanker

Transformasi teknologi medis diyakini harus berjalan beriringan dengan layanan suportif. Salah satu pilar krusial yang kerap terabaikan adalah soal nutrisi.

Pakar gizi klinis, dr. Della MW Cintakaweni, M.Gizi, Sp.GK, FINEM, AIFO-K, mengatakan bahwa efek samping pengobatan seperti kemoterapi seringkali membuat pasien kesulitan makan. Kondisi ini berisiko memicu malnutrisi dan menghambat pemulihan.

"Pendekatan nutrisi harus menyesuaikan kondisi setiap pasien. Jika pasien tidak menyukai atau enggan mengonsumsi makanan tertentu, ahli gizi dapat memberikan alternatif lain yang memiliki nilai gizi setara. Jadi, kebutuhan nutrisi tetap tercukupi," ujar dr. Della.

Ia menambahkan, pasien memerlukan dukungan nutrisi optimal dan edukasi tepat sehingga mereka tidak terjebak mitos pantangan makanan yang justru merugikan kesehatan.

Senada, Ketua Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia, dr. Endang Nuryadi, Sp.Onk.Rad(K), Ph.D., menyampaikan bahwa manajemen kanker modern harus bersifat multidisiplin.

Menurutnya, ada empat pilar utama penatalaksanaan kanker, yakni tindakan bedah, onkologi radiasi (radioterapi), terapi sistemik seperti kemoterapi, serta perawatan suportif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

"Perawatan suportif mencakup rehabilitasi medik, fisioterapi, akupunktur, dan pengobatan tradisional yang terstandar. Semua komponen itu saling melengkapi dalam penanganan pasien kanker," papar dr. Endang.

[Gambas:Youtube]

Saat ini, teknologi radioterapi modern mulai berkembang di sejumlah rumah sakit besar Indonesia, antara lain stereotactic radiotherapy, Image-Guided Radiotherapy (IGRT), dan Total Skin Irradiation (TSI). Untuk itu, para dokter spesialis onkologi radiasi didorong meningkatkan kompetensi diri.

"Dokter spesialis onkologi radiasi harus mampu mengadopsi teknik-teknik terbaru agar pelayanan kepada pasien makin optimal," ujar dr. Endang.

Di lapangan, pemerataan pelayanan radioterapi di Indonesia diakui masih menghadapi tantangan, terutama terkait ketersediaan peralatan. Dr. Endang menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah melalui program transformasi kesehatan yang mendorong penyediaan fasilitas radioterapi di sejumlah rumah sakit provinsi.

Di tingkat internasional, Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia juga menjalin kerja sama dengan China Anti-Cancer Association (CACA). Forum ICCF 2026 menjadi ajang pertemuan dan kolaborasi para pakar kesehatan bidang onkologi kedua negara.

"Kolaborasi erat antara Tiongkok dan Indonesia ini adalah bukti nyata bahwa sains dan pelayanan medis tidak mengenal batas negara," ujar President of CACA, Profesor Fan Dai Ming.

Hal senada disampaikan oleh Profesor Wang Ying selaku Vice President of CACA. Ia mengapresiasi kekuatan Indonesia dalam radioterapi presisi dan kontrol kanker berbasis wilayah.

"Maka, seiring perkembangan spektrum kanker global dan kemajuan teknologi yang pesat, pertukaran lintas batas, pengalaman bersama, serta pengembangan talenta jadi isu penting yang perlu diperkuat demi kemajuan regional," ujar Profesor Wang Ying.

Sinergi global ini turut mendapat dukungan penuh dari Modern Cancer Hospital Guangzhou, rumah sakit kanker bertaraf internasional yang aktif menjembatani pertukaran akademik dan pengembangan teknologi medis antarnegara. Melalui kolaborasi pendidikan dan penelitian ini, diharapkan akses masyarakat terhadap layanan kanker yang modern, komprehensif, dan berkualitas dapat semakin terbuka luas.

ICCF 2026 menandai langkah awal kemitraan jangka panjang kedua negara dalam bidang pendidikan, penelitian, inovasi, dan pelayanan kesehatan yang bertujuan menghadapi tantangan kanker di kawasan Asia.

(adv/adv) Add as a preferred
source on Google