TAS Arutala, Daycare Gratis Pemprov DKI untuk Keluarga Prasejahtera
Menjelang pukul 11.00 WIB, Retno (41) bergegas memasuki halaman TAS Arutala. Ia datang lebih awal untuk menjemput putrinya, Safeeya. Siang itu, Safeeya harus mengikuti les membaca, menulis, dan berhitung.
Safeeya segera menghampiri ibunya. Tak lama kemudian, keduanya berboncengan sepeda motor menuju tempat les.
Satu jam setelahnya, Retno kembali mengantar putrinya itu ke TAS Arutala untuk melanjutkan aktivitas bersama teman-temannya hingga sore.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Safeeya kini berusia 6 tahun. Tahun depan, Retno berencana untuk mendaftarkan Safeeya masuk sekolah dasar.
Oleh karena itu, selain mengikuti kegiatan di TAS Arutala, Safeeya juga mengikuti les membaca, menulis, dan berhitung sebanyak tiga kali dalam sepekan.
"Sementara kan masih les. Les bisa lah satu jam doang kan. Diselipin waktunya," kata Retno.
Retno mengetahui adanya TAS Arutala dari keluarganya. Safeeya sudah sejak tahun lalu dititipkan di tempat itu.
Sebelum mengenal TAS Arutala, Retno mengaku kebingungan mencari tempat yang aman untuk menitipkan Safeeya ketika dirinya harus bekerja.
Putrinya itu akhirnya lebih sering berada sendirian di rumah. Lingkungan tempat tinggal mereka yang sepi juga membuat Retno khawatir membiarkan anaknya bermain di luar rumah.
"Kakaknya sekolah, yang pertama kerja, yang kedua sekolah, ketiga sekolah juga kan. Nah dia di rumah sendirian. Entar kalau saya lagi kerja atau bantuin orang di mana gitu kan, di rumah dia, cuma diam, tapi ya main HP gitu," kata Retno.
Sebagai pekerja serabutan, ia tidak memiliki jam kerja yang tetap. Dalam sehari, ia bisa menerima berbagai pekerjaan, mulai dari mencuci pakaian, mengantar paket, hingga membantu pekerjaan rumah tangga warga.
Sebelum mengetahui adanya TAS Arutala, Retno beberapa kali membawa Safeeya kerja.
Kini, Retno mengaku keberadaan TAS Arutala sangat membantu kehidupannya. Ia kini lebih tenang untuk mencari nafkah. Apalagi, tidak dipungut biaya.
"Aduh, nolong banget ya. Kalau misalkan nggak ada ya sudah dia pasti di rumah dan HP melulu. Di sini nggak main HP malah kan jadi dia itu bisa ada belajarnya juga kan. Kalau di rumah aduh... nggak kekontrol lah," katanya.
Retno juga mengatakan TAS Arutala mengubah kebiasaan dan perilaku Safeeya. Saat di rumah,
Safeeya lebih sering bermain dengan mainan daripada main gawai.
"Lebih ke nggak terlalu main ke gadget, jadi lebih interaksi sama mainan yang di rumah kayak boneka, masak-masakan. Pokoknya mungkin karena di sini selalu main bareng-bareng kan sama temannya. Dia kayak gimanalah anak kecil kan lebih ke main ya, motoriknya kan terlalu lebih banyak ke permainan," ujarnya.
(yoa/gil) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
