Bukan Pertama, KMP Mutiara Sentosa Pernah Alami Kebakaran 2017

CNN Indonesia
Selasa, 04 Agu 2026 10:56 WIB
Perusahaan pemilik KMP Mutiara Sentosa II, kapal yang terbakar di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, sudah mengalami kecelakaan sebanyak dua kali. (Basarnas/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan pemilik KMP Mutiara Sentosa II, kapal yang terbakar di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, Minggu (2/8), sudah mengalami kecelakaan sebanyak dua kali.

Dalam peristiwa terbaru, kapal milik PT Atosim Lampung Pelayaran ini hendak berlayar dengan rute Surabaya-Makassar. Kapal tersebut mengangkut sekitar 250 orang penumpang saat insiden terjadi.

Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit mengatakan informasi awal kebakaran kapal diterima petugas siaga Kantor SAR Surabaya dari Syahbandar Tanjung Perak pada pukul 08.24 WIB.

Selang satu menit kemudian, pihak PT Atosim Lampung Pelayaran selaku operator kapal turut memberikan konfirmasi kepada petugas siaga.

"Kapal Penumpang Mutiara Sentosa II Rute Surabaya-Makasar dengan POB sekitar 250 orang terbakar," kata Nanang dalam laporannya.

Menurut keterangan yang diperoleh dari pihak perusahaan kapal, nakhoda sempat melaporkan kebakaran terjadi di ujung utara Madura pada kisaran pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Komunikasi dengan nakhoda kemudian terputus dan tidak dapat dihubungi kembali.

Tim SAR langsung bergerak melakukan sejumlah langkah koordinasi begitu informasi diterima. Pada pukul 08.30 WIB, Kantor SAR Surabaya berkoordinasi dengan Syahbandar Tanjung Perak untuk memastikan posisi terakhir kapal. Koordinasi berlanjut pada pukul 09.00 WIB antara Pos SAR Sumenep dengan Stasiun Radio Pantai (SROP) Kalianget.

Hasil komunikasi SROP dengan Kapal Meratus Project 3 yang berada di sekitar lokasi kejadian pada pukul 09.45 WIB memastikan posisi KMP Mutiara Sentosa 2 berada 19 mil laut di utara Pulau Buruan, Sapudi.

"Kondisi kapal hampir terbakar habis dan penumpang kapal berada di anjungan dan haluan," ucapnya.

Proses pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan. Hingga Senin (3/8) total 234 orang penumpang KMP Mutiara Sentosa II telah ditemukan.

Sebanyak 229 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sedangkan lima orang ditemukan meninggal dunia

Sementara itu, kebakaran kapal milik PT Atosim Lampung Pelayaran juga terjadi pada 2027. KM Mutiara Sentosa I terbakar di Perairan Masalembo, Sumenep, Madura, pada Jumat, 19 Mei 2017, sekitar pukul 16.00 WIB

Melansir Detik.com, saat itu Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi menyebutkan, sebanyak 197 penumpang kapal melompat ke laut saat kapal tersebut terbakar. Para penumpang mengalami kepanikan saat kapal terbakar.

Dari jumlah itu, 192 penumpang selamat dan lima penumpang lainnya meninggal dunia.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga mengatakan perusahaan pemilik kapal itu sudah dua kali kecelakaan. Ia menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap perusahaan tersebut.

"Perusahaan [pelayaran] kita akan melakukan evaluasi melihat dari data yang ada, kalau tidak salah sudah dua kali [kecelakaan] ya," kata Dudy saat meninjau korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Senin (3/8) dini hari.

Dudy menyampaikan, pihaknya akan menunggu hasil investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan, sebelum mengambil langkah evaluasi lebih lanjut terhadap perusahaan tersebut.

"Kita akan evaluasi ya, tapi yang paling penting kita akan lihat dulu sebab-sebabnya yang kita dapatkan dari KNKT. Jadi ini juga akan menjadi lesson learned buat kita, bahan evaluasi kepada perusahaan yang bersangkutan. Karena itulah yang wajib kita lakukan untuk memberikan rasa kepercayaan kepada masyarakat bahwa kita melakukan yang terbaik," ucapnya.

DPR desak evaluasi total

Ketua DPR RI Puan Maharani juga mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi terhadap sistem keselamatan transportasi laut buntut insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II.

Puan mengatakan rangkaian kecelakaan tersebut harus menjadi peringatan bagi pemerintah. Sebab, bagi sebagian warga, kapal bukan gaya hidup, melainkan kebutuhan.

"Bagi jutaan warga di wilayah kepulauan, transportasi laut merupakan satu-satunya akses menuju layanan kesehatan, pendidikan, perdagangan, maupun aktivitas ekonomi," kata Puan lewat keterangan tertulis, Selasa (4/8).

Puan menyampaikan duka cita untuk pada korban dalam insiden tersebut. Dia menilai insiden itu harus menjadi alarm sistem keselamatan transportasi laut yang saat ini masih rentan.

Politikus PDIP itu turut menyoroti dugaan kelalaian hingga manipulasi jumlah manifes KMP Mutiara Sentosa. Termasuk dugaan tidak adanya sekoci penyelamat pada kapal.

"Persoalan manifes kapal yang berbeda dengan penumpang yang ada di lapangan menjadi persoalan yang terus menerus kita temukan. Harus ada evaluasi mendalam mengenai persoalan ini," katanya.

Puan mendorong evaluasi terhadap operator, pelabuhan, maupun regulator. Menurut dia, sistem transportasi laut tidak boleh diukur hanya dari kelancaran arus penumpang dan logistik.

Dia bilang, kapal juga harus mampu mencegah kecelakaan, mempercepat penyelamatan korban, serta menurunkan tingkat fatalitas setiap insiden.

Puan mendesak pemerintah menetapkan target nasional penurunan angka kecelakaan transportasi laut sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional. Menurutnya, target tersebut juga perlu disertai evaluasi berkala terhadap pencapaiannya.

"Dengan demikian, setiap lembaga atau kementerian, operator, dan regulator memiliki tanggung jawab yang terukur untuk meningkatkan keselamatan masyarakat," katanya. 

(yoa/thr/isn)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK