DLH Tarakan Sebut Batubara Aktif Turut Picu Karhutla di Kalimantan

CNN Indonesia
Sabtu, 22 Agu 2026 09:45 WIB
DLH Kota Tarakan menduga kebakaran hutan dan bencana kabut asap di daerahnya juga keberadaan deposit batu bara aktif di bawah permukaan tanah. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan menduga kebakaran hutan dan bencana kabut asap di daerahnya tidak hanya dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan oleh manusia, namun juga  keberadaan deposit batu bara aktif di bawah permukaan tanah.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tarakan, Chaizir Zain, menjelaskan bahwa potensi batubara aktif ini banyak tersebar di kawasan Tarakan Timur, khususnya di area semak belukar sekitar Universitas Borneo Tarakan (UBT) hingga sepanjang jalur menuju Pantai Amal.

"Sepengetahuan kami memang salah satu pemicu dari kebakaran lahan itu adalah batu bara. Di daerah Tarakan Timur ini ada kandungan batu bara di daerah semak belukar yang bisa memicu kebakaran. Tidak perlu ada pembakaran lahan, terkadang dia bisa terbakar sendiri," ujar Chaizir di Kelurahan Pantai Amal, Sabtu (22/8) seperti dikutip dari detikkalimantan.

Chaizir menerangkan, fenomena ini terjadi akibat kombinasi cuaca ekstrem. Curah hujan yang minim dan paparan suhu panas memicu batubara melepaskan kalori panas alami.

"Ketika kalori tersebut berinteraksi dengan angin dan bersentuhan dengan semak belukar yang kering, asap dan kobaran api akan langsung tercipta," terangnya.

Meskipun kualitas batubara di Tarakan tergolong relatif rendah, kandungan kalorinya dinilai sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan panas yang berpotensi membakar vegetasi di atasnya.

Chaizir pun memberikan imbauan khusus terkait penanganan kebakaran lahan yang bersumber dari batubara. Untuk pemadaman yang efektif, DLH menyarankan penggunaan metode penutupan pasokan udara, baik menggunakan cairan kimia khusus (foam) maupun metode penimbunan tanah secara langsung.

"Kalau penanganannya untuk batubara ini sebenarnya tidak boleh disiram kalau dia terbakar, karena akan tambah mengeluarkan asap dan menyimpan panas. Air itu kan mengandung H2O, salah satu unsurnya oksigen yang merupakan komponen segitiga pemicu api," jelasnya.

"Metodenya bisa menggunakan bahan kimia foam atau ditimbun tanah, jadi batubara tersebut tidak terkena udara atau air secara langsung," tambah Chaizir.

Ia pun meminta masyarakat agar tidak langsung berspekulasi bahwa setiap kejadian Karhutla di Tarakan murni disebabkan oleh kesengajaan warga yang membuka lahan. Potensi alamiah batubara aktif diakuinya turut memegang peranan dalam munculnya titik-titik asap di wilayah tersebut.

(fra)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK