10 Fakta Karhutla Kalimantan: Asap Nyeberang Malaysia-Relawan Dirawat

CNN Indonesia
Sabtu, 22 Agu 2026 09:20 WIB
Karhutla terjadi Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah pada Kamis (20/8) sore bergerak cepat.
Ilustrasi. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah pada Kamis (20/8) sore bergerak cepat hingga mendekati kawasan Gardu Induk PLN dan permukiman warga. (Foto: Dok. Istimewa via Detikcom)

6. Habitat orangutan terancam

Hingga saat ini belum ditemukan orangutan yang mati akibat karhutla. Namun, titik panas mulai mendekati wilayah yang menjadi habitat satwa tersebut.

CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation Jamartin Sihite mengatakan titik api di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sudah mulai mendekati pusat populasi orangutan.

"Di Kalimantan Barat sudah, di Kalimantan Tengah juga sudah mulai mendekat ke pusat-pusat populasi seperti dekat ke Taman Nasional Sebangau, di daerah Pulang Pisau, ini daerah-daerah yang juga ada orangutannya, dan cukup besar," ujar Jamartin kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

7. Orangutan keluar hutan cari tempat aman

Asap pekat dan kebakaran di habitat membuat orangutan berpotensi mencari wilayah yang lebih aman.

Di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, orangutan dilaporkan masuk ke area perkebunan warga. BKSDA Kalimantan Tengah menduga pekatnya asap dan api di habitat menjadi salah satu penyebab orangutan keluar dari hutan.

Jamartin mengatakan kondisi tersebut juga dapat terjadi karena asap mengganggu ketersediaan sumber makanan orangutan.

"Data kami menunjukkan, di pusat penelitian kita di Tuanan, semakin panjang masa asap, semakin kecil peluang tanaman di hutan berbunga dan berbuah. Artinya ketika asap besar, maka peluang orangutan nanti kehilangan makanan, itu cukup besar juga," jelasnya.

8. Dampak asap bisa berlangsung lama

Dampak karhutla terhadap satwa tidak otomatis berakhir setelah api padam.

Jamartin mengatakan asap karhutla yang berlangsung selama dua hingga tiga bulan dapat menyebabkan kelangkaan sumber makanan hewan, termasuk orangutan, selama enam hingga tujuh bulan.

Sementara itu, untuk mengganti satu pohon yang terbakar dibutuhkan waktu minimal 15 tahun dengan perawatan yang memadai.

9. Matahari di Palangka Raya berubah menjadi merah

Pekatnya asap juga membuat fenomena langit terlihat berbeda di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Matahari terlihat seperti bola merah pada Kamis (20/8) sore. Prakirawan BMKG Palangka Raya Chandra mengatakan kondisi tersebut dapat dipengaruhi partikel asap karhutla di atmosfer.

"Karena jika dilihat dari citra sebaran asap kemarin sore, terlihat wilayah Kalimantan Tengah sebagian besarnya sudah tertutup asap," kata Chandra.

Menurutnya, partikel di atmosfer dapat memengaruhi cahaya matahari yang mencapai permukaan bumi sehingga matahari terlihat kemerahan, terutama ketika posisinya mulai rendah.

10. Puluhan pesawat dikerahkan tangani karhutla

Berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan karhutla di Kalimantan, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC) dan pemadaman dari udara.

TNI AU mengirimkan tiga pesawat Casa NC-212 dari Skadron Udara 4 ke Kalimantan untuk mendukung OMC pada Jumat (21/8).

Sementara itu, terdapat20 pesawat yang dikerahkan BPBD untuk beroperasi di Kalimantan. Armada tersebut terdiri dari lima helikopter, tiga pesawat untuk modifikasi cuaca, dan 12 helikopter besar untuk operasi water bombing.

(lau/dmi)

HALAMAN:
1 2