Korban Keracunan MBG di Ponpes Sidoarjo Tembus 664 Orang
Jumlah korban dugaan keracunan massal usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini mencapai 664 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmita Herawati merinci, dari total tersebut, 581 orang sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
Tapi, kata Lakhsmita, masih ada 77 santri masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, dan enam pasien lainnya masih dalam tahap observasi.
"Total 664 pasien, MRS 77 pasien, KRS 581 pasien, observasi 6 pasien," kata Lakhsmita saat dikonfirmasi, Kamis (3/9).
Lihat Juga : |
Lakhsmita menyebut kondisi para korban yang masih menjalani perawatan secara umum stabil. Meski begitu, mereka belum bisa dipulangkan karena masih membutuhkan pemantauan dan penanganan tenaga kesehatan.
"Secara umum kondisi pasien yang masih menjalani perawatan stabil," ujarnya.
Meski jumlah korban telah menembus lebih dari 600 orang, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo hingga kini belum menetapkan kejadian tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Dinas Kesehatan setempat memilih mengaktifkan Tim Krisis Kesehatan untuk memperkuat penanganan korban sekaligus memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan.
Lakhsmita menjelaskan, penanganan dibagi menjadi dua mekanisme. Tim kesehatan ditempatkan di lokasi kejadian untuk melakukan pemantauan dan penanganan awal, yang dikoordinasikan oleh petugas puskesmas setempat.
Di sisi lain, sejumlah rumah sakit diminta meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiapkan tenaga medis, obat-obatan, serta berbagai fasilitas pendukung yang diperlukan untuk menangani korban.
"Kita aktifkan krisis kesehatan. Kemudian kita bagi dua, karena di sini perlu ada penanganan di lapangan, kita buka lapangan dengan korlapnya dari puskesmas. Kemudian untuk yang di rumah sakit-rumah sakit kita siagakan dengan tenaga kesehatan yang cukup," ujar dia.
Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar di 19 sekolah pada kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo diduga mengalami keracunan massal usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Mereka mengalami gejala mual, muntah hingga pusing setelah mengonsumsi menu MBG yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin, berupa nasi putih, orak arik telur, tempe bumbu bali, sayur tumis buncis baby corn, dan buah apel, pada Selasa (1/9) siang.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan kasus keracunan massal santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggul Angin, Sidoarjo merupakan kelalaian yang disengaja.
"Ini adalah kelalaian yang disengaja. Saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja. Aturan sudah diberikan, juklak-juknis sudah diberikan, cara sudah diberikan tapi Anda lalai dalam melaksanakan. Ini namanya kelalaian yang disengaja," kata Sudaryono dalam unggahannya di Instagram, Kamis (3/9).
Sudaryono menekankan ia tak pandang bulu apabila ditemukan dugaan unsur pidana dalam kasus semacam ini.
Ia menyebut ancamannya bukan hanya dicopot dari jabatannya, melainkan juga berpotensi diseret ke ranah hukum.
"Bukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat. Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf kami tidak bisa bantu," ucap dia.
Sudaryono menyampaikan kronologi kasus keracunan tersebut bermula saat ahli gizi dan SPPG terkait tidak melabeli semua omprengnya.
Ia mengatakan dalam kasus itu, dari sekian banyak ompreng yang diberikan ke penerima manfaat, hanya satu yang diberikan label.
Sudaryono menyampaikan di label itu memuat sejumlah informasi, salah satunya adalah jam makanan matang.
Dalam kasus ini, Sudaryono menyebut makanan matang pada pukul 05.00 pagi, sehingga harus dikonsumsi sebelum pukul 09.00 pagi.
Namun di pelabelan itu dilaporkan bahwa makanan matang pada Pukul 8.00 pagi dan dimakan maksimal pada Pukul 10.00.
"Yang menjadi kenyataannya ya di lapangan, itu ompreng yang harusnya dimakan sebelum jam 10.00 dikirim ke sekolah di atas jam 11.00. Kalau tidak salah 11.30 apa 11.40. Baru dimakan di atas jam 12.00 oleh para siswa itu sehingga keracunan massal terjadi," ujar dia.
(frd/dal)