Kemenhut Konfirmasi Orang Utan 'Sempurna' Mati Diduga Akibat Asap

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 05:15 WIB
An orangutan, named Sampurna, receives emergency treatments after being rescued, at a palm-oil plantation near an area affected by wildfires, in Kuala Satong village, Ketapang regency, West Kalimantan province, Indonesia, August 30, 2026. REUTERS/Wil
Kementerian Kehutanan mengonfirmasi kematian orang utan Sempurna akibat gangguan pernapasan di Kalimantan. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Kehutanan mengonfirmasi satu individu orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Sempurna mati akibat mengalami gangguan pernapasan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

BKSDA Kalimantan Barat menyampaikan Sempurna diduga terdampak paparan asap. Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane juga menyampaikan duka atas kematian satwa tersebut sekaligus mengapresiasi masyarakat yang melaporkan keberadaannya.

Upaya penyelamatan dilakukan BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) setelah menerima laporan warga pada 30 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa. Pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya," ujar Murlan, Kamis (3/9).

Sempurna ditemukan di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Saat pertama kali ditemukan, kondisi orang utan tersebut disebut sangat lemah dan mengalami gangguan pada pernapasan.

Laporan mengenai keberadaan Sempurna diterima petugas sekitar pukul 07.00 WIB. Tim BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI kemudian bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan memberikan pertolongan.

Sebelum dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI sekitar pukul 11.30 WIB, Sempurna terlebih dahulu mendapatkan penanganan awal berupa terapi oksigen dan pemberian cairan melalui intravena.

Namun, kondisi orang utan tersebut terus memburuk. Sekitar pukul 14.00 WIB, napas Sempurna semakin dangkal dan saturasi oksigen tidak lagi terdeteksi.

Tim kemudian melakukan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) setelah Sempurna menunjukkan tanda-tanda henti napas. Meski telah dilakukan upaya pertolongan, Sempurna dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.

Untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus dugaan penyebab kematian, tim melakukan nekropsi terhadap Sempurna pada 1 September 2026. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal.

Berdasarkan riwayat kondisi klinis serta hasil pemeriksaan, perubahan patologis pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu fungsi paru-paru hingga menyebabkan hipoksia akut atau kekurangan oksigen dalam tubuh.

Gangguan tersebut kemudian diduga turut memengaruhi fungsi kardiovaskular Sempurna hingga akhirnya menyebabkan kematian.

Murlan menegaskan laporan dari masyarakat memiliki peran penting dalam penanganan satwa liar yang berada dalam kondisi darurat. Menurutnya, informasi dari warga dapat mempercepat tindakan ketika satwa ditemukan dalam keadaan sakit, terluka, maupun terdampak kebakaran hutan dan lahan.

"Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas," katanya.

(antara/isn)
placeholder