Puluhan Tenda untuk Sekolah Darurat Dibangun Pascagempa NTT
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan puluhan tenda ruang kelas darurat untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan setelah gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan pihaknya telah menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat yang akan didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak gempa di Pulau Flores.
"Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman," kata Mu'ti dalam keterangannya, Jumat (4/9).
Berdasarkan data Kemendikdasmen per 16 Agustus, tercatat sebanyak 253 satuan pendidikan terdampak gempa. Jumlah tersebut terdiri atas 199 satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, SMP dan SKB yang menjadi kewenangan kabupaten serta 54 satuan pendidikan jenjang SMA/SMK/SLB yang menjadi kewenangan provinsi.
Kemendikdasmen melakukan penanganan di tujuh kabupaten di Pulau Flores. Yakni Kabupaten Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat dan Sikka.
Dari hasil pendataan, wiilayah dengan kerusakan pendidikan terparah berada di Kabupaten Manggarai Timur. Dari total 104 satuan pendidikan terdampak di wilayah tersebut, 51 di antaranya mengalami dampak pada jenjang SD dan SMP/MTs, yang terdiri dari 33 SD serta 18 SMP/MTs.
Sementara itu, Kabupaten Manggarai Barat juga tercatat ada sebanyakk 52 satuan pendidikan terdampak.
"Selain kerusakan bangunan, musibah gempa bumi juga menelan korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan yakni dua orang murid dan satu orang guru," ucap Mu'ti.
Mu'ti mengatakan Kemendikdasmen mengarahkan sekolah yang mengalami kerusakan untuk menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang terdampak.
Pembelajaran dapat dipindahkan ke ruang yang aman, menggunakan tenda belajar, atau diliburkan sementara menyesuaikan kondisi masing-masing daerah.
"Kami juga menyiapkan dukungan psikososial melalui kerja sama dengan HIMPSI. Layanan tersebut akan segera bergerak setelah tim pendahuluan memberikan konfirmasi kondisi lapangan," ucap dia.
"Langkah selanjutnya adalah mendorong pembersihan sekolah yang masih aman digunakan serta mengoordinasikan pemanfaatan anggaran belanja tambahan untuk kebutuhan sarana dan alat belajar," sambungnya.
Selain bantuan fisik, Kemendikdasmen menyiapkan dukungan konektivitas melalui Starlink bagi wilayah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi.
"Tim lintas direktorat di Kemendikdasmen juga mulai bergerak ke lapangan untuk mempercepat asesmen, verifikasi kerusakan, dan koordinasi pemulihan layanan pendidikan," tutur Mu'ti.