Mendikdasmen Minta Pembelajaran SMK Tetap Berjalan Selama PKL
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti meminta agar pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi murid Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak boleh menjadi alasan terhentinya proses pembelajaran.
Mu'ti pun menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan pembelajaran murid SMK, termasuk melalui pembelajaran yang fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan kondisi PKL.
Menurut dia, pembelajaran asinkron menjadi salah satu pendekatan yang dapat diterapkan. Melalui model ini, murid dapat mengakses materi dan menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa harus mengikuti pembelajaran pada waktu yang sama dengan guru.
"Pembelajaran tidak berhenti ketika anak-anak kita melaksanakan PKL. Justru pengalaman di dunia kerja harus menjadi bagian dari proses pembelajaran," kata Mu'ti dalam keterangannya, Senin (14/9).
Mu'ti menyebut PKL memberikan kesempatan kepada murid untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di sekolah dalam situasi kerja nyata. Selain keterampilan teknis, murid juga belajar mengenai disiplin, tanggung jawab, komunikasi profesional, budaya kerja, keselamatan kerja, hingga tuntutan kompetensi di dunia usaha dan dunia industri.
Namun, pengalaman tersebut perlu tetap diikuti dengan penguatan kemampuan dasar. Literasi dan numerasi menjadi dua kemampuan yang penting untuk terus dikembangkan selama murid menjalani PKL.
"Literasi dan numerasi merupakan kemampuan fundamental. Keduanya diperlukan bukan hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja," ucap dia.
Kata dia, dalam kegiatan PKL, kemampuan literasi digunakan ketika murid membaca prosedur kerja, memahami petunjuk penggunaan peralatan. Kemudian, menafsirkan informasi teknis, menyusun laporan, mengisi formulir, hingga berkomunikasi dengan pembimbing dan rekan kerja.
Sementara numerasi dibutuhkan dalam berbagai aktivitas pekerjaan. Misalnya menghitung kebutuhan bahan, menentukan ukuran, membaca tabel dan grafik, menghitung waktu pengerjaan, memperkirakan biaya, menghitung persentase, hingga membandingkan hasil pekerjaan.
Karenanya, penguatan literasi dan numerasi tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan nilai mata pelajaran. Kemampuan tersebut juga menjadi fondasi bagi murid untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta bekerja secara efektif.
Kebutuhan penguatan tersebut juga tercermin dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMK Tahun 2025. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Nomor 4021/B/D2/DV.00.01/2026, rerata capaian murid pada Matematika tercatat 34,84, Bahasa Inggris 22,69, dan Bahasa Indonesia 53,68.
Data tersebut menunjukkan masih perlunya penguatan kompetensi akademik murid SMK. Salah satu tantangannya adalah memastikan dukungan pembelajaran tetap tersedia ketika murid berada di lokasi PKL.
Namun, Mu'ti mengatakan pendekatan pembelajaran juga harus mempertimbangkan kondisi murid yang beragam. Jadwal kerja, lokasi PKL, akses internet, ketersediaan perangkat, hingga pola pendampingan dapat berbeda antara satu murid dengan murid lainnya.
Karena itu, pembelajaran asinkron dapat menjadi pilihan yang lebih fleksibel. Guru dapat menyediakan video pembelajaran, modul ringkas, lembar kerja, kuis, tugas pemecahan masalah, maupun jurnal refleksi yang dapat dikerjakan murid sesuai waktu yang tersedia.
"Fleksibilitas bukan berarti tanpa arahan. Guru tetap memiliki peran penting dalam menetapkan tujuan pembelajaran, memberikan instruksi, memantau perkembangan, dan memberikan umpan balik kepada murid," tutur dia.
Lebih lanjut, Mu'ti menyebut lewat pembelajaran asinkron, pemerintah berharap proses pendidikan murid kelas XII tetap berlangsung selama PKL. Penguatan literasi dan numerasi diharapkan tidak hanya membantu murid menghadapi asesmen, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan yang relevan untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, maupun menjalani kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, PKL dan pembelajaran akademik tidak ditempatkan sebagai dua kegiatan yang saling berlawanan. Keduanya dapat berjalan beriringan untuk membentuk lulusan SMK yang memiliki keterampilan kerja sekaligus kemampuan berpikir dan bernalar yang kuat.