Kasus influenza di Surabaya, Jawa Timur, dilaporkan mengalami lonjakan dalam sepekan terakhir. Peningkatan kasus ini membuat instalasi gawat darurat (IGD) hingga ruang perawatan anak di sejumlah rumah sakit dilaporkan penuh.
Direktur Utama RS Husada Utama Surabaya dr Didi Dewanto membenarkan anomali kesehatan tersebut. Ia menyebut manajemen rumah sakit bahkan harus menambah ruang perawatan karena membludaknya pasien yang mayoritas adalah anak-anak.
"[Kasus Influenza] anak-anak, kasusnya memang meningkat ya. Sampai penuh, tempat saya pediatric ward, ruang anak penuh. [IGD] sama penuh juga," ungkap Didi kepada awak media, Rabu (16/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga : |
Didi meyakini lonjakan pasien ini tidak hanya terjadi di tempatnya, melainkan juga dialami oleh fasilitas kesehatan lain di Kota Pahlawan.
"Hampir semua rumah sakit kayaknya ya, mohon coba dicek ya yang lain. Ada satu lantai ada 44, jadi sampai kita oper-oper ke lantai lain. [Mayoritas pasien usia] anak-anak, tapi dewasa juga sama, sana ambruk, sini ambruk," ungkap dia.
Meski keluhan pasien mengarah kuat pada influenza, Didi belum bisa memastikan varian virus yang memicu lonjakan ini. Ia pun mendesak masyarakat untuk kembali memperketat protokol kesehatan.
"Saya enggak tahu variannya, [harus menunggu hasil] periksa lab. Imbauannya ya jaga kebersihan, hidup sehat, pakai masker. Pencegahan ya cara hidup sehat, kalau bisa, vaksinasi influenza," kata dia.
Pemandangan berbeda justru terlihat di RS Kemenkes Surabaya. Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya dr Martha Siahaan menyebut tidak ada lonjakan pasien yang signifikan di rumah sakit kelas A tersebut.
"Mungkin karena [RS Kemenkes Surabaya rumah sakit] kelas A, jadi lebih banyak di kelas di bawahnya atau puskesmas," ungkap Martha.
Namun, ia tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Menurutnya, kebiasaan hidup bersih seperti mencuci tangan harus selalu diterapkan secara konsisten.
"Jangan hanya waktu pandemi Covid-19 saja [pola hidup bersih dan sehat dijalankan]," ujarnya.
Merespons situasi di lapangan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya dr Billy Daniel Messakh mengakui adanya tren kenaikan kasus demam. Ia menilai hal ini dipicu oleh perubahan cuaca dan peningkatan aktivitas warga.
"Memang dalam beberapa waktu terakhir ada sedikit peningkatan kasus demam. Kondisi ini masih tergolong wajar dan dapat terjadi seiring perubahan cuaca serta meningkatnya aktivitas masyarakat," kata Billy.
Billy mengklaim mayoritas pasien saat ini hanya membutuhkan rawat jalan. Ia menyebut belum ada lonjakan pasien dengan kondisi berat yang membutuhkan perawatan intensif.
"Yang saat ini dirawat inap di rumah sakit adalah pasien dengan kondisi yang memang memerlukan penanganan lebih lanjut, seperti mengalami gangguan pernapasan berat. Sementara itu, pasien dengan demam atau influenza pada umumnya dapat ditangani melalui perawatan rawat jalan," ungkap Billy.
Dinkes Surabaya memastikan terus memantau ketersediaan tempat tidur dan tenaga medis. Billy mengimbau warga untuk tidak panik, menyeleksi informasi yang beredar, dan memprioritaskan pemeriksaan awal ke puskesmas.
"Intinya, faskes kita siap. Jika ada keluhan, silakan periksa ke puskesmas terdekat terlebih dahulu. Mari kita sama-sama menjaga kesehatan dan tidak mudah percaya informasi yang belum jelas sumbernya," ujarnya.

