Jakarta, CNN Indonesia -- April 2026 menjadi upaya titik balik sistem pengelolaan sampah di DKI Jakarta.
Melalui Ingub Nomor 5 Tahun 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan warga untuk memilah sampah dari sumbernya. Kewajiban ini meliputi penanganan terhadap sampah organik secara mandiri.
Bagi kebanyakan masyarakat, sampah organik identik dengan sampah yang berbau hingga menjijikkan. Mengelolanya pun tampak merepotkan, apalagi di tengah kesibukan warga kota dan minimnya lahan yang dimiliki untuk menyimpannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat permasalahan ini, Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Imam Basori memutuskan membuat program menjemput sampah organik dari rumah ke rumah. Dia menyebut aktivitas itu sebagai Komling atau Kompos Keliling.
"Kita selesaikan tingkat hulu dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, jadi kita jemput bola. Jemput bola, masuk ke rumah-rumah menyampaikan kepada masyarakat sekaligus mengedukasi tentang pilah sampah," ujar Imam Basori, atau dikenal sebagai Ibas saat dikunjungi CNNIndonesia.com, Selasa (8/9).
Sebagai gambaran, wilayah RT yang dipimpin Ibas itu adalah sebuah kawasan padat penduduk, di mana setiap rumah saling berdempetan. Jalan di gang itu juga hanya muat untuk dilewati sekitar dua motor.
Terlepas dari itu, suasana di RT ini cukup sejuk, hijau, dan hidup. Ketika sampai di depan gang RT ini disambut mural di setiap dinding jalan yang menggambarkan budaya Indonesia, budaya Betawi, hingga infografis tentang program RT.
Tak hanya itu, sepanjang jalan gang juga diisi dengan deretan tanaman yang bahkan disusun hingga bertingkat. Jika jalan sedikit ke dalam gang, kita akan melihat ada ruang terbuka yang menjadi tempat satkamling dan tempat berkumpul warga sekitar.
Di tempat tersebut, terlihat ada papan tulis, pojok baca berisi buku-buku, hingga alat smart geprek dan komposter mandiri.
Bangjali piket bergilir
Ibas bilang aktivitas Komling itu merupakan bagian dari pilar lingkungan dalam inovasi "Bangjali" atau "Bareng Jaga Lingkungan" di RT 11 RW 7 Gandaria Utara.
Menurutnya Komling berangkat dari keinginan untuk mengatasi masalah sampah organik terlepas dari terbatasnya lahan yang tersedia untuk tempat pengelolaannya atau Teba.
"Lingkungan padat penduduk kayak gini, kita nggak punya space untuk bikin Teba seperti itu. Nah, makanya kita bikin pendekatan teknologi tadi. Dengan caranya, kita ubah sampah organik langsung berubah menjadi kompos," sebutnya.
Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara Imam Basori memperlihatkan gerobak Komling yang jadi programnya untuk mengumpulkan sampah organik dari rumah-rumah warga di dalam gang. (CNN Indonesia/Moureen) |
Setiap harinya, ada seorang warga yang akan mendapatkan piket atau giliran Komling.
Pada pukul lima sore, Komling akan keliling dengan menggunakan gerobak listrik yang dilengkapi alat komposter, genset portabel, serta sound speaker.
"Piket Komling itu sama dengan piket satkamling juga. Dalam satu hari itu bergantian. Satu tim itu, satu grup, ada PJ-nya (Penanggung Jawab), ada apa namanya, anggotanya. Nah, anggotanya itu kurang lebih ada delapan," tuturnya.
Selanjutnya setelah sampah dikumpulkan dari warga secara jemput bola, melalui komposter Komling dapat menjadi kompos dalam waktu enam jam.
Kapasitas komling hingga jingle
Jika sampah organik dalam satu hari melebihi kapasitas Komling, maka akan ditampung di Koma atau komposter mandiri. Komposter mandiri ini, kata Ibas, mampu menampung setidaknya hingga 100 kilogram sampah organik.
Hasil kompos nantinya digunakan sebagai media tanam untuk ketahanan pangan warga setempat. Masyarakat memanfaatkan hasil kompos ini untuk membudidayakan tomat, cabai, hingga bayam.
Ibas menerangkan metode "menjemput bola" atau "door-to-door" sengaja dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh rumah dikunjungi dan terkomunikasi.
Tempat pengelolaan sampah mandiri di lingkungan RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Jakarta Selatan, (CNN Indonesia/Moureen Nathalia) |
"Jemput bola itu, akhirnya kita mengetahui banyak temuan. Temuan pertama, masyarakat di awal, di tiga minggu di awal itu, banyak yang tidak memahami pilah sampah. Nah, dengan teknik jemput bola itu, kita akhirnya langsung memberikan edukasi, dan mempraktikkan langsung pilah sampah," jelas Ibas.
Bukan cuma jemput sampah, Ibas mengaku pihaknya melakukan pendekatan menarik untuk mengedukasi warganya. Cara ini meliputi sosialisasi dan diskusi di pertemuan rutin warga, memasang stiker di gerobak, mengadakan lomba pilah sampah, hingga membuat jingle-nya sendiri. Jingle atau lagu promosi itu diperdengarkan lewat pengeras suara saban Komling berjalan, dan menjadi "sinyal" bagi warga untuk menyiapkan sampah organiknya.
"Kompos keliling mania/ Kampung bersih, kagak berabe/Warga guyur, makin kece/Pagi-pagi, abang nyengir/Emak-emak, pade hadir/Sampah dapur, dipilah rapi/Biar minggunya tambah bersih," demikian penggalan jingle yang dibuat Ibas dkk untuk meramaikan gerobak Komling tersebut.
Baca halaman selanjutnya.
Respons warga
Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara Imam Basori bersama salah satu warganya yang jadi relawan gerobak Komling (CNN Indonesia/Moureen Nathalia)
Salah satu warga di RT Gandaria Utara tersebut, Arief (23), mengaku dirinya salah satu yang antusias dengan kegiatan Komling di permukimannya.
"Saya sebagai warga sangat antusias ya dengan adanya inovasi ini. Karena kita sebagai warga dipermudah untuk membuang sampah organik gitu atau yang botol gitu kan. Nah, soalnya dengan adanya sistem ini, jadi warga enggak buang sampah sembarangan,' kata dia kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu di September ini.
Bahkan, Arief yang juga bagian dari Karang Taruna setempat ikut melibatkan diri jadi relawan Komling selama beberapa bulan terakhir.
"Komling itu operasionalnya jam 5. Jam 5 sore, nah itu setiap hari kita muter. Saya sebagai relawan, jadi saya hanya memandu kalau misal ada piket. Terus kalau misal saya lagi ada kegiatan di luar, nah warga langsung sendiri kan, gitu" kata Arief.
"Nah, itu juga... misal bapak-bapaknya enggak bisa piket nih hari ini nih, nah itu bisa digantikan oleh ibu-ibunya serta anak-anaknya. Kadang-kadang anak-anaknya juga ikut membantu. Jadi dia tahu mana sampah organik, sampah anorganik, dan sampah yang enggak bisa didaur ulang," sambungnya.
Roy (43) yang juga warga daerah itu mengaku mereka kini terbiasa dengan pemilahan sampah karena program yang digelar pemimpin RT-nya. Mau enggak mau ketika program itu digerakkan, warga yang biasanya cuma menumpuk sampah begitu saja jadi teredukasi untuk memilah sendiri.
"Sebelum ada Komling ini, kita ya standar aja buang sampah campur-campur langsung ke tukang sampah yang ngambilin setiap bulan. Jadi kita taruh sampah di belakang nanti setiap bulannya tuh diambilin sama tukang sampah ya kadang sebulan sekali, kadang dua minggu sekali gitu. Jadi kadang-kadang suka numpuk," kata Roy.
"Nah, semenjak Pak RT nyanangin program kompos keliling terus sama bikin Koma, jadi mau gak mau kita juga harus milah-milah sampah," sambungnya.
Dia pun berharap kegiatan di RT itu menular ke daerah lain, terutama di lingkungan RW-nya saja dulu.
"Nah harapannya ke depan sih kepinginnya lingkungan RW 7 gitu kan. Kami kan berada di RT11, RW7 gitu kan. Harapannya kepinginnya lingkungan RW7 tuh menjadi seperti kami gitu kan," kata Roy.
[Gambas:Photo CNN]