Sindiran Jubir PDIP ke Jokowi usai Pamer KTA PSI: Harusnya Ijazah
Juru Bicara PDIP, Guntur Romli menyindir langkah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) yang baru menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
PSI saat ini dipimpin putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, sebagai ketua umum.
Guntur menilai alih-alih memamerkan KTA, lebih baik Jokowi menunjukkan ijazahnya ke publik untuk meredakan kegaduhan dan spekulasi yang ada.
"KTA PSI itu apa ya? Partai Sengketa Ijazah?" ujarnya kepada wartawan, Minggu (27/9).
Bukan hanya itu, Guntur juga mendesak agar Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka--yang juga putra sulung Jokowi--untuk menunjukkan ijazah kelulusan SMA yang saat ini sedang digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).
"Diminta nunjukin Ijazah agar tidak makin gaduh, kok malah nunjukin KTA, baik Jokowi diminta nunjukin ijazah S1 UGMnya dan Gibran nunjukin ijazah SMA-nya," sindirnya.
Sebelumnya, Jokowi mengaku dirinya telah resmi menjadi anggota PSI sejak 14 Oktober 2025. Hal itu disampaikan Jokowi saat menghadiri Rakorda PSI di Bandung, Sabtu (26/9). Pada kesempatan tersebut, Jokowi memamerkan KTA PSI yang telah dikantonginya.
"Saya sudah masuk menjadi keluarga besar PSI itu sudah 14 Oktober 2025. Sudah setahun lalu. Banyak yang enggak percaya. Saya kasih kartu anggota saya," kata Jokowi sebagaimana dikutip dari siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com.
Jokowi mengungkap alasan dirinya baru mengumumkan keanggotaannya di PSi. Menurutnya, pengumuman itu menunggu momentum yang pas.
Ia mengaku momentum yang tepat ada saat bertemu dengan kader-kader Bandung dan Kabupaten Bekasi.
"Banyak yang bertanya kok baru ditunjukkan sekarang, ya kan suka-suka saya dong, kan ini kartu milik saya, bahwa saya tunjukkan di Bandung dan Bekasi ini karena momentumnya memang sekarang," ujarnya.
"Politik ini kan momentum, momentumnya pas kan ya saya tunjukkan sekarang," lanjut Jokowi.
Jokowi sempat bergurau kepada kader yang tidak setuju dengan keanggotaannya di PSI. Ia mengatakan akan memberikan hadiah sepeda terhadap kader yang tidak setuju.
"Siapa setuju saya memilik kartu ini? Ada yang tidak setuju, maju, saya beri sepeda," canda Jokowi yang disambut tawa hadirin.
Jokowi sebelumnya dikenal sebagai kader PDIP. Dia berangkat meraih sejumlah jabatan politik jalur pemilu lewat PDIP sebagai kendaraan partai politiknya. Dari mulai Pilwalkot Solo, Pilgub DKI Jakarta, hingga Pilpres sebanyak dua kali dimenangkannya bersama PDIP.
Bukan cuma itu, anak dan menantunya pun memenangi kontestasi pilkada kota/kabupaten dengan kendaraan politik PDIP. Gibran semula berhasil menjadi Wali Kota Solo lewat PDIP. Pun, dengan menantu Jokowi, Bobby Nasution yang menjadi Wali Kota Medan lewat PDIP.
PDIP dan Jokowi pecah kongsi jelang Pilpres 2024, di mana Gibran dipasangkan maju bersama Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.
Pasangan Prabowo-Gibran itu mengalahkan duet Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang diusung PDIP dan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar di Pilpres 2024.
Jokowi dan Gibran saat itu disebut bukan lagi kader PDIP, selain itu Bobby sudah menyeberang ke Gerindra dan memenangi Pilgub Sumut.
Keikutsertaan Gibran dalam kontestasi Pilpres 2024 diwarnai noktah merah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang saat itu masih dipimpin adik ipar Jokowi, Anwar Usman. Anwar belakangan dijatuhi putusan etik oleh MKMK, dan dicopot dari jabatan Ketua MK.
(tfq/kid)