Keluarga Buka Suara soal Pemuda Natuna Jadi Tentara Rusia dan Tewas

CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 13:40 WIB
Beredar informasi pria asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), Rendy diduga meninggal dunia saat mengikuti perang konflik Rusia Vs Ukraina.
Beredar informasi pria asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), Rendy diduga meninggal dunia saat mengikuti perang konflik Rusia Vs Ukraina. (Arsip Istimewa)
Batam, CNN Indonesia --

Beredar informasi seorang pria asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) diduga meninggal dunia karena terlibat perang konflik Rusia Vs Ukraina.

Korban bernama Rendi (30) itu diduga direkrut jadi tentara yang membela Rusia. Kabar kematian Rendi dibenarkan temannya semasa alumni angkatan tahun 2014 - 2015 di SMA Negeri 1 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna.

Pihak keluarga pun mengonfirmasi soal wartamerta tersebut. Orang tua almarhum Rendi, Rustamal dan Eniyanti, mengaku putranya ditarik jadi tentara bayaran di bidang logistik di Rusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka mengaku dapat kabar dari laporan rekan putranya yang juga ada di Rusia sebagai tentara bayaran di bagian logistik.

Dari kabar yang diterima, korban tewas pada 20 September 2026 lalu akibat serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina yang menargetkan Moskow dan sejumlah wilayah Rusia lainnya.

"Iya, kan ada informasinya itu Rusia di serang drone dari Ukraina sewaktu Rusia mengadakan Pemilu, di situlah terjadinya serangan drone itu. Di situ anak saya tidak bisa menghindar lagi, karena banyaknya drone," kata Rustamal saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com via telepon, Senin (28/9) siang ini.

Lebih lanjut, dia mengatakan anaknya sudah sekitar lima bulan diduga bekerja sebagai tentara bayaran Rusia. Rendi, katanya, diduga direkrut secara tidak resmi oleh agen untuk bekerja di bagian logistik militer Rusia.

Sebelum diketahui jadi tentara bayaran Rusia, Rustamal bilang putranya itu bekerja sebagai teknisi listrik di Filipina. Namun, tiba - tiba anaknya mengabarkan kepada mereka sudah berada di Rusia bekerja sebagai tentara bayaran di bagian logistik.

Saat itu, aku Rustamal, dia dan istrinya sempat mengingatkan korban, karena negara Rusia sedang tidak aman akibat perang dengan Ukraina.

"Saya bilang, 'Kenapalah di sana. Di sana kan lagi perang'. 'Mudah - mudahan lah Pak aman, doa aja Pak'," kata Rustamal meniru ucapan anaknya.

Kini dia berharap jenazah anaknya bisa dipulangkan ke kampung halamannya. Dia juga mengaku empat menghubungi teman anaknya, soal kemungkinan jenazah buah hati mereka bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Namun temannya menjelaskan hal itu sulit dilakukan, karena kondisi di Rusia di tempat kejadian masih gawat perang.

"...'Tidak bisa pak', jawab temannya, 'Karena di lokasi masih gawat dengan perang. Sekarang masih ada tulang-belulang yang belum dievakuasi'...," ujar Rustamal mengulang dialog dengan rekan almarhum anaknya.

Terpisah, Bupati Natuna, Cen Sui Lan, saat dikonfirmasi belum mengetahui langkah yang akan dilakukan pemerintah daerah terkait informasi duka yang beredar tersebut.

"Belum update," katanya singkat menjawab pertanyaan CNNIndonesia.com yang dikirim via Whatsapp, Senin siang ini.

Pun demikian Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Natuna, Boy Wijanarko Varianto saat dikonfirmasi. Dia mengaku belum bisa mengklarifikasi tangkapan layar status Whatsapp sejumlah rekan korban, karena belum dapat kebenaran informasi dari pihak TNI.

"Baru tahu pula, kroscek yang buat ini. Mau ditanya ke intel TNI dulu," ujarnya singkat via Whatsapp.

(kid/arp/kid)
placeholder