Basarnas: Pencarian Korban KM Virgo 8 Dilanjutkan Selama Memungkinkan
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) masih melanjutkan pencarian korban kapal KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa, Kalimantan Selatan.
Operasi pencarian akan terus dilakukan selama masih memungkinkan untuk menemukan dan mengevakuasi korban.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan pencarian, termasuk melalui operasi bawah air atau searching underwater, tetap dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan personel.
"Operasi SAR tidak akan pernah dihentikan selama masih memungkinkan untuk bisa menemukan korban dan mengevakuasi korban," kata Syafii di Hotel Grand De Djokja, Kota Yogyakarta, DIY, Selasa (29/9).
Menurut Syafii, operasi hanya dapat dihentikan apabila seluruh korban telah ditemukan atau kondisi lapangan tidak lagi memungkinkan bagi tim untuk melakukan pengangkatan maupun evakuasi.
"Operasi hanya bisa dihentikan pada saat semua korban pasti sudah ditemukan. Atau sudah tidak memungkinkan lagi untuk melaksanakan katakanlah pengangkatan atau mungkin evakuasi terhadap korban," imbuhnya.
Syafii mencontohkan operasi pencarian KM Tunu Pratama Jaya di Selat Bali tahun lalu. Menurutnya, kondisi kedalaman laut, kecepatan arus, serta pertimbangan medis terhadap kondisi korban dapat menjadi faktor yang membuat operasi tidak lagi memungkinkan dilanjutkan.
"Kemudian dengan kecepatan arus, dengan waktu yang menurut medis sudah tidak memungkinkan lagi kita bisa mengangkat struktur tubuh yang dalam kondisi yang sudah tidak bisa dievakuasi, misalkan seperti itu. Sehingga di situlah memungkinkan bahwa operasi akan dihentikan," ujarnya.
"Namun kalau ada tanda-tanda adanya korban yang masih memungkinkan kita evakuasi, tentunya operasi akan tetap kita laksanakan," sambungnya.
Basarnas sebelumnya memaksimalkan tiga hari pertama pencarian sebagai masa golden time pada kejadian KM Virgo. Pencarian awal dilakukan di permukaan dengan harapan seluruh korban dapat ditemukan dalam kondisi selamat.
Namun, dari 114 korban yang ditemukan pada hari pertama, enam di antaranya dalam kondisi meninggal dunia. Kondisi kapal yang ditemukan dalam keadaan terbalik kemudian membuat Basarnas menduga masih ada korban yang terjebak di dalam kapal.
Pencarian bawah air pun dilakukan. Namun, operasi tersebut menghadapi kendala arus laut yang sangat kuat.
Syafii mengatakan kecepatan arus di lokasi sempat mencapai lebih dari 6 knot, bahkan pernah menyentuh 7 knot. Padahal, pengoperasian peralatan seperti ROV secara normal dilakukan pada kecepatan arus sekitar 1,5 knot.
Mempertimbangkan kondisi tersebut, penyelam tidak dapat melakukan operasi bawah air sepanjang hari. Basarnas menyesuaikan pencarian dengan kondisi pasang surut agar operasi tetap dapat dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan personel.
"Peralatan yang kita miliki tidak direkomendasikan untuk masuk tentunya tidak akan kita lakukan, karena operasi hanya bisa dilaksanakan dengan jaminan bahwa seluruh personel yang melaksanakan operasi harus dalam kondisi aman," katanya.
Di sisi lain, lanjut Syafii, proses identifikasi korban juga terus dilakukan bersama tim Disaster Victim Identification (DVI) dan unsur medis.
Basarnas juga melakukan evaluasi operasi secara berkala. Syafii mengatakan evaluasi dilakukan setiap tujuh hari untuk menentukan langkah pencarian berikutnya berdasarkan informasi dan kondisi terbaru di lapangan.
"Mudah-mudahan sekarang juga kita berpacu dengan waktu karena makin lama juga teman-teman DVI juga makin kesulitan untuk bagaimana identifikasi dari korban," ucap Syafii.
Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa, Kalimantan Selatan.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9), pukul 02.00 WITA. Kapal itu hilang kontak saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9) pekan lalu.
Kapal yang membawa 243 manifes itu dilaporkan mengalami cuaca buruk dan hilang kontak pada 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 WITA. Kapal ditemukan pada hari yang sama dalam kondisi terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Hingga Senin (28/9) kemarin, tercatat 179 korban telah ditemukan, terdiri dari 108 orang selamat dan 71 orang meninggal dunia. Sementara itu, 64 orang masih dalam pencarian dari total manifest 243 orang.
(kum/fra)