Guru di Banjarmasin Meninggal Usai Asma Kambuh di Tengah Asap Karhutla
Seorang guru di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Lisna (29) meninggal dunia pada Minggu (27/9) malam.
Lisna meninggal usai asmanya kambuh di tengah kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Banjarmasin dalam beberapa waktu terakhir.
Mengutip dari detikKalimantan, sebelum wafat, almarhumah sempat tetap ke sekolah untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang guru walau kabut asap karhutla melanda wilayah tersebut.
Kepala SD Tanjung Pagar 3 Banjarmasin, Zainal Abidin Asmari, membenarkan hal tersebut. Namun pihaknya juga sudah memberikan kelonggaran usai mengetahui kondisi Lisna yang menderita asma.
"Guru yang bersangkutan sudah minta izin sekitar seminggu karena mengeluhkan asmanya kambuh. Kami izinkan untuk tidak turun ke sekolah apabila kondisinya tidak memungkinkan," kata Zainal, Selasa (29/9).
Zainal menjelaskan kondisi kabut asap terdampak karhutla di sekolah tersebut memang cukup tebal. Sehingga dampak yang dirasakan cukup parah.
Menurutnya kondisi asap parah itu karena lokasi sekolah berada di kawasan perbatasan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.
"Di lingkungan sekitar sekolah cukup pekat. Karena wilayah sekolah berada di perbatasan, jadi cukup terimbas," tuturnya.
Zainal mengungkapkan Lisna masih terlihat sehat pada sore harinya. Namun menjelang pukul 23.30 Wita, kondisi Lisna terus menurun hingga dikabarkan meninggal dunia.
"Di sore hari kondisinya masih sehat, kemudian malamnya meninggal dunia. Kami berharap kondisi kabut asap yang terjadi saat ini menjadi perhatian, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga para guru, khususnya mereka yang memiliki gangguan pernapasan," tegas Zainal.
Ia kembali menegaskan pihak sekolah selama ini telah memberikan kelonggaran bagi guru yang mengalami gangguan pernapasan, untuk tidak masuk apabila kondisi kesehatan sedang tidak memungkinkan.
Kondisi karhutla
Sebelumnya diberitakan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sisa luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum berhasil dipadamkan di enam provinsi prioritas kini tersisa seluas 96,07 hektare berkat pengoptimalan operasi pemadaman gabungan di darat dan udara.
Plt Kapusdatinkom Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengungkapkan angka tersebut menunjukkan penurunan signifikan jika dibandingkan hari sebelumnya.
"Berdasarkan pemutakhiran data per 28 September 2026, total luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 527,6 hektare, dengan 431,53 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan. Luas lahan yang masih belum padam saat ini tersisa 96,07 hektare," kata dia, dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Karhutla di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jakarta, Selasa.
Berton memaparka sisa area kebakaran tersebut mengalami penurunan sebesar 62,29 hektare dibanding data 27 September yang sebelumnya tercatat mencapai 158,36 hektare.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan penurunan titik api terbanyak dicapai di Kalimantan Tengah sebesar 46,70 hektare, disusul Kalimantan Selatan 17,74 hektare, Jambi 1,50 hektare, dan Kalimantan Barat 1 hektare.
Sebaliknya, peningkatan luasan belum padam terpantau di Sumatera Selatan sebesar 4,15 hektare dan Riau 0,5 hektare.
Adapun capaian pemadaman seluas 431,53 hektare tersebut disokong oleh operasi darat yang memadamkan 369,03 hektare dan operasi udara seluas 62,5 hektare.
Berton menjelaskan bahwa untuk operasi darat, sebanyak 59.035 personel Satgas disiagakan di enam provinsi prioritas, meliputi Riau (14.837 personel), Kalimantan Barat (14.575 personel), Sumatera Selatan (11.026 personel), Kalimantan Selatan (7.927 personel), Jambi (5.984 personel), dan Kalimantan Tengah (4.686 personel).
Selain mengerahkan pompa pemadam, tangki portabel, dan injeksi air ke dalam lapisan gambut, BNPB memperkuat pengerahan armada udara sebanyak 56 unit, terdiri dari 43 unit *water bombing* serta 13 unit patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dia juga memastikan meskipun menghadapi kendala tebalnya kabut asap, perubahan arah angin, dan keterbatasan sumber air di area gambut, BNPB bersama TNI, Polri, BMKG, dan pemerintah daerah terus memaksimalkan pembasahan darat serta penyemaian awan guna meminimalkan dampak asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Sementara itu, mengutip dari laman prakiraan cuaca pada situs resmi BMKG, hari ini di Banjarmasin turun hujan ringan. Hal itu diharapkan dapat membantu mengurangi ketebalan asap, dan penananganan karhutla.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/kid)