4 Warga Gunungkidul Positif Antraks Buntut Makan Daging Kambing Sakit

CNN Indonesia
Jumat, 02 Okt 2026 16:40 WIB
Empat warga Gunungkidul positif antraks usai konsumsi daging kambing mati mendadak. Dinkes lakukan penanganan dan edukasi bahaya konsumsi hewan sakit.
Ilustrasi pasien. (iStock/Chan2545)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak empat orang warga dusun Pelem, Semanu, Gunungkidul, DI Yogyakarta (DIY) dinyatakan positif terpapar antraks usai mengonsumsi daging dari kambing yang mati mendadak diduga sakit.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono menyampaikan, keempatnya sebelum terkonfirmasi terpapar antraks sempat melalukan porak atau mbrandu.

"Infonya memang itu mbrandu nah. Kemudian dikonsumsi bareng-bareng gitu," kata Ismono sama dihubungi, Jumat (2/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Porak atau mbrandu mengacu pada tradisi masyarakat setempat, di mana warga membeli ternak yang mati dengan maksud meringankan beban si pemilik ternak.

Menurut Ismono, dalam kasus ini mulanya beberapa warga di dusun tersebut September 2026 lalu mengalami gejala umum pada kasus paparan antraks. Macam muncul luka mirip koreng pada kulit. Tujuh orang kemudian ditetapkan statusnya sebagai suspek.

Hasil penyelidikan epidemiologi, barulah diketahui sebelumnya mereka memiliki riwayat kontak langsung dengan hewan ternak kambing yang mengalami kondisi lemas kemudian mati mendadak.

"Kemudian yang PCR positif konfirmasi antraks ada empat," beber Ismono.

Sementara, hasil penelusuran kontak pada populasi berisiko mengidentifikasi 47 orang yang memiliki riwayat paparan terhadap hewan maupun produk hewan yang berasal dari kambing tadi.

Ismono melanjutkan, keempat orang terkonfirmasi antraks tadi telah mendapat penanganan medis dan kini dalam kondisi sehat

"Sudah sehat, enggak, enggak apa-apa, enggak ada masalah," klaim Ismono.

Pemberian profilaksis di saat bersamaan diberikan kepada para suspek, termasuk 47 orang yang memiliki riwayat paparan sebagai upaya mencegah munculnya kasus tambahan.

Dia menerangkan Dinas Kesehatan juga masih melakukan pemantauan kesehatan terhadap seluruh kontak dan populasi berisiko selama dua kali masa inkubasi atau durasi 60 hari.

"Sampai saat ini sudah nggak ada kasus baru itu, berarti sudah selesailah di situ," tegasnya.

Kendati demikian, kata Ismono, pihaknya terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya menyembelih, mengolah, maupun mengonsumsi hewan yang sakit atau mati mendadak. Pemkab Gunungkidul menekankan pentingnya pelaporan segera apabila ditemukan kematian hewan ternak yang tidak diketahui penyebabnya.

Dinas Kesehatan juga berkoordinasi lintas sektor dengan pemerintah desa, Dinas Peternakan, Puskesmas, serta pihak terkait lainnya dalam rangka pencegahan dan pengendalian antraks di wilayah setempat.

Upaya ini termasuk imbauan agar melakukan pemantauan terhadap kejadian kematian hewan ternak dan di wilayah sekitar, serta memastikan pelaporan segera kepada petugas kesehatan apabila ditemukan hewan yang mati mendadak yang tidak diketahui.

(kum/kid)
placeholder