KPK Ungkap Hasil Survei Integritas Pendidikan 2026: Kategori Adaptif

CNN Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026 14:28 WIB
Ketua KPK Setyo Budiyanto menyampaikan skor Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2026 masuk kategori adaptif dengan skor 73,30. SPI mencerminkan kondisi integritas dunia pendidikan Indonesia. (ANTARA/Fianda Sjofjan Rassat)
Jakarta, CNN Indonesia --

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyampaikan skor Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2026 masuk kategori adaptif dengan skor 73,30. SPI mencerminkan kondisi integritas dunia pendidikan Indonesia.

"Kita berikan applause dulu untuk skor daripada SPI, luar biasa ya. Kita bersyukur ya skornya sudah cukup tinggi, posisinya adalah adaptif 73 poin sekian dibandingkan dua tahun sebelumnya 69,5 ya," kata Ketua KPK Setyo Budiyanto dalam agenda Indeks Integritas Pendidikan Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).

Meski skor SPI Pendidikan meningkat dari tahun 2024, Setyo mengungkapkan masih ada beberapa daerah dengan nilai SPI yang masuk kategori korektif sehingga dibutuhkan perbaikan.

"Saya berharap semua pihak tidak alergi manakala kemudian ada daerah tertentu yang kemudian dianggap masih kurang. Kesempatan untuk kita perbaiki," katanya.

Pensiunan jenderal polisi bintang tiga ini menambahkan pencegahan korupsi harus dimulai dari ruang kelas agar bisa mencegah terjadinya tindak pidana korupsi.

Ia bilang KPK mafhum pemerintah banyak melakukan pembangunan infrastruktur. Hanya saja, pembangunan karakter generasi muda harus menjadi perhatian utama.

"Kalau ini sudah kita lakukan, mudah-mudahan ini bisa memperkuat budaya dan menjaga serta mewariskan kepada generasi-generasi berikutnya," ucap Setyo.

"Kita berada di sini, saya yakin semuanya memiliki satu keyakinan yang sama, punya kepercayaan yang sama, bahwa masa depan Indonesia ini dibangun dari ruang kelas ya, saya yakin semuanya sepakat," lanjutnya.

Skor SPI Pendidikan tersebut diperoleh dari survei yang melibatkan 42.810 responden, meliputi peserta didik, murid dan mahasiswa.

Untuk tingkat SD melibatkan kelas 4 dan 5 atau mereka yang dianggap sudah mampu membaca dan menyimak pertanyaan. Kemudian SMP dan sederajat melibatkan kelas 7 dan 8.

Sementara SMA kelas 10 dan 11, serta mahasiswa semester 3 sampai 8. Selain itu, survei juga melibatkan orang tua khusus untuk jenjang dasar dan menengah.

Selanjutnya ada tenaga pendidik, yaitu dari instansi pendidikan yang terpilih. Lalu, responden lain adalah kepala sekolah dan pimpinan perguruan tinggi.

Metode pengumpulan data menggunakan tiga cara, yakni secara online dengan pengisian melalui tautan kuesioner yang dikirimkan melalui WhatsApp blast dan email blast.

Kedua, Computer Assisted Web Interviewing (CAWI) yakni pengisian data berbasis website bagi satuan pendidikan yang memiliki keterbatasan, seperti tidak memiliki ponsel, privasi data, atau sekolah asrama.

Ketiga, Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) yakni pengisian data secara mandiri berbasis aplikasi yang difasilitasi oleh tim survei secara langsung di lapangan bagi satuan pendidikan yang memiliki keterbatasan akses internal.

Sebanyak 42.810 satuan pendidikan terlibat sebagai responden, yang terdiri dari 41.720 Sekolah Dasar Menengah dan 1.090 perguruan tinggi.

"Kita bersyukur skor daripada indeksnya sudah bagus, tinggal bagaimana memperbaiki yang lain," kata Setyo.

(ryn/fra)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK