Cegah Karhutla, Pemerintah Siapkan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove
Kepala Staf Kepresidenan RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan pemerintah tengah mempersiapkan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove dalam menghadapi dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ia mengatakan peran badan itu akan menjadi lebih fleksibel, sehingga dapat meminimalkan risiko kebakaran hutan dan lahan ke depan.
"Bagaimana mempersiapkan badan restorasi gambut untuk menjadi badan yang lebih fleksibel untuk ke depan menghadapi dan mencegah agar karhutla betul-betul bisa diminimalkan," kata Listyo mengutip keterangannya, Senin (12/10).
Selain itu, Listyo mengatakan pemerintah juga mengerahkan seluruh unsur terkait untuk bersama-sama menangani karhutla yang terjadi saat ini.
Ia menyebut penanganan dilakukan melalui sinergi TNI, Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, dan masyarakat untuk mengambil langkah terbaik.
Listyo menjelaskan pemerintah terus mendorong berbagai upaya penanganan mulai dari operasi satuan tugas udara dan darat hingga sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah juga mendorong perbaikan regulasi memperkuat upaya penanganan karhutla.
Ia pun terus mendorong agar penanganan karhutla dilakukan secara terpadu, baik melalui langkah pemadaman maupun upaya pencegahan.
"Lengkap, mulai dari Satgas Udara, Satgas Darat, kemudian juga upaya-upaya untuk terus memberikan sosialisasi, edukasi, perbaikan regulasi, semuanya sedang didorong," ujarnya.
Karhutla melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satunya di Kalimantan Barat yang menyebabkan 46 individu Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) dievakuasi dan diselamatkan.
Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Kalimantan Barat menyatakan puluhan individu Orangutan Kalimantan itu diselamatkan sejak Agustus hingga 9 Oktober 2026 selama siklus karhutla.
"Setidaknya sudah ada 46 orangutan yang diselamatkan dari habitat yang terbakar. Sementara penyediaan habitat aman menjadi tantangan lanjutan bagi upaya konservasi satwa dilindungi tersebut," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) Murlan Dameria Pane di Pontianak, Minggu (11/10).
Dari jumlah itu, delapan individu yang telah dinyatakan sehat mulai ditranslokasikan pada 9 Oktober ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang. Pemindahan itu menjadi tahap lanjutan setelah satwa dievakuasi dari habitat yang terbakar dan menjalani pemeriksaan kesehatan serta observasi.
Dampak karhutla juga dirasakan di Sumatra Selatan, tepatnya di wilayah Kab. Musi Rawas pada Senin pagi (12/10) yang masih diselimuti asap karhutla.
Tebalnya kabut asap sejak 5 hari terakhir membuat aktivitas masyarakat khususnya para petani yang banyak bekerja di lapangan menjadi terganggu.
(mnf/fra)