Udara Gorontalo Tak Sehat Dikepung Asap Karhutla Kalimantan dan Papua
Kualitas udara di Provinsi Gorontalo dilaporkan dalam kondisi tidak sehat. Situasi ini dipicu asap kiriman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan dan Papua.
"Pantauan karbon monoksida dan PM2.5 yang dibuat oleh Stasiun GAW Palu di mana wilayah Gorontalo berada pada kualitas udara yang tidak sehat," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo, Satria Topan Primadi, Selasa (13/10), dikutip dari detikSulsel.
Satria menjelaskan, cuaca di wilayah Gorontalo dalam kondisi cerah hingga cerah berawan. Kendati begitu, situasi ini didominasi dengan udara kabut karena asap karhutla baik secara lokal maupun kiriman.
Dia menjelaskan sebaran asap dari Papua terpantau menyebar di Gorontalo berdasarkan data pantauan citra satelit pada 13 Oktober pukul 11.00 Wita. Kondisi inilah yang memicu kualitas udara di Gorontalo tidak sehat.
"Wilayah Gorontalo mendapat kiriman asap dari Papua, dan jika kita melihat sebaran titik hotspot, saat ini masih terdapat di beberapa wilayah sebaran titik hotspot (titik panas)," jelasnya.
Selain itu, Satria bilang asap karhutla di Kalimantan juga terpantau masuk ke wilayah Gorontalo berdasarkan pantauan 8-10 Oktober lalu. Kendati begitu, kabut asap saat ini didominasi dari karhutla di Papua.
"Potensi asap dari Kalimantan, tapi kecil karena angin dominan timuran. Saat ini dominan dari Papua dan lokasi kita sendiri asal asapnya," ucap Satria.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa mengimbau warga untuk tetap waspada. Masyarakat diminta mengenakan masker saat keluar rumah.
"Kami mengimbau masyarakat menggunakan masker yang sesuai, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan menghindari paparan asap secara langsung," kata Anang.
Dia menjelaskan kualitas udara memburuk akibat asap karhutla bisa memicu gangguan kesehatan. Oleh karena itu, pihaknya mengingatkan agar masyarakat utamanya kelompok rentan mengantisipasi kondisi tersebut.
"Ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Gunakan masker yang sesuai saat beraktivitas di luar ruangan dan kurangi kegiatan yang tidak mendesak, terutama bagi kelompok rentan," jelasnya.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/kid)