Asap Karhutla Tebal, Singapura Kini Tak Terlihat dari Batam
Negara tetangga Singapura yang sangat dekat dengan Batam, Kepulauan Riau (Kepri) terlihat tertutup kabut asap pekat kiriman kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Kondisi ini sudah berlangsung sejak Rabu (14/10) lalu akibat pekatnya kabut asap yang membekap Negeri Singa Laut itu.
Pantauan pada Jumat siang (16/10). Gedung-gedung pencakar langit di negeri jiran yang biasanya terlihat jelas dengan mata telanjang dari Batam, secara kasat mata dari Sekupang Batam dan Belakang Padang dalam tiga hari terakhir tak tampak lagi.
"Dari rabu kemarin, sudah tidak terlihat lagi Singapura dari Batam," kata salah satu warga Batam, Eko, saat ditemui Kamis (15/10).
Eko mengatakan, asap pekat yang terjadi Rabu (14/10) hingga Kamis kemarin juga mengganggu aktivitas warga dan kesehatan.
Warga yang biasanya berjualan di pinggir laut sekitar pantai di kawasan Sekupang, dengan panorama Negeri Singapura mengaku sangat terdampak. Eko menerangkan biasanya, pengunjung ramai di Sekupang itu pada sore hari, namun beberapa waktu terakhir ini sepi.
"Tidak jualan lagi, akibat sepi pengunjung ke pantai," ujarnya.
Warga lain bernama Joni yang tidak jauh dari lokasi pantai juga berkata demikian. Dia menyebut, kabut asap yang menutupi Singapura menyebabkan menipisnya jumlah pengunjung.
Menurutnya, kebanyakan pengunjung ke pantai untuk berswafoto dengan view Gedung-gedung pencakar langit.
"Sudah tidak ada pengunjung lagi, akibat Singapura tertutup kabut asap," Ucapnya.
Dia berharap, kabut asap yang menutupi Singapura terbawa angin dan Singapura bisa terlihat kembali sangat jelas dari Batam, sehingga warga pun senang bisa ramai ke pantai berswafoto dan ada dampaknya bagi warga sekitar secara ekonomi.
"Semoga kabut asapnya terbawa angin dan hilang lah bang, biar jelas lagi Singapura bisa terlihat," katanya.
Selain negara tetangga yang tidak terlihat, berdasarkan pantauan, kawasan ikonik Welcome To Batam di Batam Center--pusat kuliner Kota Batam--juga tertutup kabut asap.
Kondisi itu membuat pedagang yang berjualan di kawasan itu tampak sepi lantaran tidak ada pengunjung yang datang untuk menikmati kuliner di kawasan situ. Padahal, sebelum 'asap karhutla menyerang', biasanya di kawasan tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan negeri jiran Malaysia dan Singapura.
"Sepi pengunjung, akibat kabut asap. Biasanya, ramai yang datang," kata Santi, salah satu pedagang minuman di kawasan itu saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Kamis kemarin.
Terpisah, Kepala Bidang Keselamatan Berlayar, Penjagaan, dan Patroli (KBPP) KSOP Khusus Batam Yuzirwan Nasution mengatakan, kondisi kabut asap yang terjadi di wilayah Batam belum berdampak pada pelayaran, termasuk yang ke/dari Singapura dan Malaysia.
"Untuk pelayaran internasional, terutama kapal-kapal feri ya, sejauh ini terkait dengan kabut asap yang ada, belum ada laporan bahwa itu mengganggu pelayaran," ujarnya.
Meski demikian, KSOP Batam meminta kepada Perusahaan Pelayaran, Perusahaan Keagenan Kapal dan Operator Kapal selalu waspada saat berlayar di tengah kondisi kabut asap imbas karhutla di Sumatra dan Kalimantan.
"Kita tetap mengimbau kepada seluruh operator kapal, pengguna jasa maritim dan owner kapal tetap berhati-hati," katanya Kamis kemarin.
Dia berharap kabut asap yang membekap kota Batam segera hilang, sehingga pengunjung kembali ramai terutama para wisatawan dari negara tetangga Malaysia dan Singapura.
Selain itu, dia mengatakan jarak pandang Batam - Singapura meski tidak terlihat. Namun visibility untuk di kapal, masih bisa dilihat dari kapal ke kapal lainnya.
Selain itu, sambungnya, di kapal juga diperbantukan dengan alat navigasi seperti radar semua harus diaktifkan guna memantau kapal-kapal yang ada di sekitar yang sedang berlayar.
(arp/kid)