Tito Ungkap Alasan Karhutla di Kalimantan dan Sumatra Sulit Padam

CNN Indonesia
Senin, 19 Okt 2026 16:54 WIB
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah melarang pembakaran lahan dalam bentuk apa pun selama kondisi darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan sejumlah kendala penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatera. CNN Indonesia/ Dela Naufalia
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkap sejumlah kesulitan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini masih terjadi di Pulau Kalimantan dan Sumatra.

Menurut Tito, dua wilayah itu, terutama di Sumatera bagian Timur, memang diberkahi karena memiliki tanah gambut. Namun, di sisi lain, tanah jenis itu juga berdampak negatif saat terbakar.

"Nah, kalau sudah terbakar, tanah gambut ini beda dengan kebakaran di tanah mineral," ujar Tito usai menghadiri rapat gabungan membahas karhutla di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Jakarta, Senin (19/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada tanah gambut, kebakaran akan membuat api bertahan lebih lama di dalam tanah. Kondisi ini berbeda dengan kasus di tanah mineral.

Untuk itu, menurut Tito, salah satu cara paling efektif adalah memasukkan air dalam jumlah banyak ke dalam tanah. Setidaknya ada dua cara yang disampaikan oleh Tito. Pertama, lewat hujan, baik secara alami maupun modifikasi cuaca.

"Sebagai mantan Kapolri, ini pertama harus ada air dari udara, itu untuk hujan. Hujannya ada dua, hujan alami dan hujan buatan, cloud seeding, modifikasi cuaca," katanya.

Cara kedua adalah dengan memasukkan air ke dalam tanah melalui sumber-sumber air, seperti sungai, waduk atau danau. Ia bilang modifikasi cuaca juga sulit dilakukan jika tak ada benih awan.

Sementara itu, untuk memasukkan air secara manual ke dalam tanah lewat sumber air juga sulit dilakukan jika sumbernya jauh atau kering. Atas dasar itu, cara yang bisa dilakukan pemerintah saat ini adalah dengan rekayasa kimia atau chemical substances.

Tito mengungkapkan cara demikian saat ini sudah dilakukan di beberapa titik api di Kalimantan maupun Sumatra.

"Saya lihat Sumatera Selatan, dengan bahan itu, dengan jumlah air yang kecil, yang lebih sedikit, dia mampu untuk mendinginkan dan meredamkan lahan gambut," imbuhnya.

Terlepas dari itu, Tito mengaku bersyukur karena upaya modifikasi cuaca di Kalimantan, khususnya di Palangka Raya berhasil dilakukan. Namun, lagi-lagi, lanjut dia, modifikasi cuaca tetap harus dilakukan lewat benih awan.

"Khusus di Kalimantan kita tahu bahwa modifikasi cuaca berhasil dilakukan sehingga turun hujan ya, di Kalimantan Tengah, Palangka Raya dan sekitarnya," ungkapnya.

Kebakaran hutan dan lahan masih terjadi setidaknya di enam provinsi, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Dilansir dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah luas terbakar di enam provinsi tersebut per 24 jam terakhir sebanyak 1.308,03 hektare dan luas yang akan dipadamkan 650,19 hektare.

Adapun titik panas atau hotspot per hari ini ada di 5.499 titik, sedangkan titik api atau fire spot sebanyak 247 titik. Terdapat 53.848 personel gabungan yang dikerahkan dalam menangani karhutla tersebut.

(thr/ryn)
placeholder