Bahlil Soroti Ketum Golkar Belum Pernah Jadi Presiden RI

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 14:30 WIB
Bahlil menjelaskan alasan belum ada ketua umum partai yang menjadi presiden, menekankan tujuan politik partai untuk kesejahteraan rakyat.
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. (CNN Indonesia/ Thohirin)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyoroti soal belum ada ketua umum partainya yang menjabat Presiden Republik Indonesia (RI).

Walaupun partai itu identik dengan penguasa Orde Baru (Orba), Soeharto, selama 32 tahun rezim tersebut berkuasa, jabatan tertinggi Ketua Umum Golkar di struktur negara Indonesia adalah Sudharmono sebagai Wakil Presiden RI 1988-1993.

"Kalau kita melihat sejarah Partai Golkar, sejak lahir tahun 1964, pemilu tahun 1971, belum pernah ada ketua umumnya yang menjadi presiden," kata Bahlil di hadapan wartawan usai acara Doa & Tasyakuran HUT Golkar ke-62 pada Selasa (20/10) malam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan satu-satunya Ketua Umum Partai Golkar yang jadi ketua umum dulu baru jadi wakil presiden adalah Pak Sudharmono," sambung pria yang kini menjabat Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi serta Menteri ESDM itu.

Kemudian, Bahlil menegaskan Partai Golkar lahir semata-mata bukan hanya untuk menjadikan ketua umum sebagai presiden dan/atau wakil presiden. Namun, tegasnya, untuk menjadi instrumen politik negara dalam mewujudkan cita-cita Bangsa Indonesia.

"Partai Golkar itu lahir bukan hanya semata-mata untuk menjadikan ketua umum jadi presiden sama wapres. Tapi Partai Golkar ini lahir untuk menjadi instrumen politik negara dalam mewujudkan cita-cita negara, untuk apa? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kesejahteraan, pendidikan, dan macam-macam. Itu maksud saya," jelas Bahlil.

Selain itu, menurut Bahlil, Partai Golkar memiliki tujuan jelas yakni menambah jumlah kursi di parlemen.

"Apa tujuannya Partai Golkar? Ya naikkan kursi. Itu doktrinnya," ucapnya.

Oleh karena itu, Bahlil menyinggung pada sejarahnya Partai Golkar didirikan sebagai partai penyeimbang.

"Nah jadi jelas ya, Partai Golkar partai yang sejak sebelum kami lahir, didirikan untuk menjadi golongan penyeimbang dari partai politik sebenarnya dulunya. Tapi pemilu 99 reformasi harus menjadi partai politik, tapi doktrinnya, tujuannya enggak berubah, menjadi politik kesejahteraan," tambah Bahlil.

Dalam sejarahnya, Sudharmono yang merupakan seorang pensiunan jenderal bintang tiga yang dekat dengan Soeharto selama berkuasa. Dalam sejarah sejauh ini dia disebut sebagai salah satu tokoh penting terkait Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang membuka pintu kekuasaan Soeharto.

Berdasarkan situs resmi Perpustakaan Nasional RI, Sudharmono memimpin Golkar sebagai Ketua Umum selama periode 1983-1988.

Sebelum dipilih jadi mandataris MPR mendampingi Soeharto jadi Wapres kelima RI untuk periode 1988-1993, dia pernah berada di dalam kabinet sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Sementara itu Soeharto--meski pelanggengan kekuasaannya identik dengan Golkar--tak pernah menjadi ketua umum partai itu. Kedudukannya di partai itu hanya di kursi Dewan Pembina Partai, termasuk saat menjadi Ketua Dewan Pembina Golkar hingga berakhirnya rezim Orba.

(knf/kid)
placeholder