Usai dilanda musim kemarau panjang yang disertai kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kota Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) akhirnya diguyur hujan selama tiga hari berturut-turut.
Salah satu warga Palembang, Indra mengaku ibu kota Sumsel itu diguyur hujan sejak Sabtu (24/10).
"Alhamdulillah, Palembang sudah 3 hari berturut-turut turun hujan setelah dilanda musim kemarau dan kabut asap," kata Indra kepada CNN Indonesia, Senin (27/10) pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indra berharap, hujan yang turun tidak hanya sesaat saja. Ia ingin hujan turun lebih lama dan merata agar kabut asap karhutla benar-benar hilang dari Kota Palembang.
"Kalau bisa hujan tidak hanya sesaat, agar kabut asap karhutla tidak ada lagi," harapnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Tur, salah seorang pedagang di Palembang. Ia menyebut hujan yang turun selama tiga hari ini membawa berkah tersendiri. Ia pun berharap kabut asap karhutla segera hilang dan aktivitas jual beli kembali normal.
Ia mengaku barang dagangannya semakin sepi akibat kabut asap yang menyelimuti Palembang selama berbulan-bulan.
"Berharap hujan ini berkah dan dagangannya kembali normal dan laris kembali," ujar Tur.
Sebelumnya, Yuli, warga Lorong Sepakat, Kelurahan 8 Ulu Palembang yang mengaku selama kemarau masyarakat setempat kesulitan mendapat air bersih untuk kebutuhan sehari-hari sehingga terpaksa membeli air dengan harga yang cukup mahal.
"Dengan turunnya hujan hari ini kami sangat senang karena tidak lagi harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari selama beberapa hari ke depan," ujarnya mengutip Antara.
Lihat Juga : |
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang Siswanto menjelaskan potensi pertumbuhan awan hujan memang telah terdeteksi berdasarkan pengamatan radiosonde atau profil atmosfer oleh BMKG Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada Sabtu (24/10) pukul 07.00 WIB.
Kondisi ini dipicu oleh dinamika pergerakan angin vertikal yang berhasil memecah lapisan inversi, sebuah lapisan atmosfer penghambat yang selama ini mengunci polutan asap di dekat permukaan tanah.
Selain itu, potensi hujan ini juga didorong oleh percepatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara hybrid yang dilancarkan tim gabungan, termasuk dengan menyebar material dry ice (karbon dioksida padat) secara intensif di udara guna mengurai gumpalan kabut asap karhutla Sumsel.
"Hujan di Palembang dan sekitarnya hari ini dapat kami sampaikan bahwa secara dinamika atmosfer memang mendukung pembentukan awan hujan dan ditambah dampak dari OMC dengan bahan semai NaCl. Memang secara data model pada 24 Oktober 2026 diprakirakan akan ada potensi pertumbuhan awan hujan sehingga tim memaksimalkan dengan OMC," ujarnya.


