Eks Kasat Reskrim Polres Wonogiri Meninggal Usai Dianiaya-7 Tahun Koma
Eks Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Kompol Aditia Mulya Ramdhani meninggal dunia usai mengalami koma sejak tahun 2019 saat berupaya melerai bentrok kelompok pesilat.
"Benar (Kompol Aditia) meninggal hari ini pukul 03.00 WIB. Sejak peristiwa 2019 itu beliau koma," kata Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Yuliyanto mengutip detikJateng, Senin (26/10).
Yuliyanto menjelaskan polisi yang saat peristiwa itu masih berpangkat AKP sempat berobat hingga ke luar negeri. Namun kondisinya tetap koma hingga meninggal dunia.
"Udah dilakukan pengobatan di Semarang, Jakarta, Singapura juga, namun tetap dalam kondisi koma," terang Yuliyanto.
Lihat Juga : |
Yuliyanto menjelaskan Kompol Aditya dimakamkan sore ini di TPU Tegal Binangun, Klaten. Lebih lanjut, Yuliyanto juga berharap peristiwa serupa tidak terulang.
"Kami berharap tidak ada lagi peristiwa perkelahian masal yang dilakukan oleh perguruan pencak silat yang merugikan pihak di luar perguruan pencak silat maupun pihak perguruan juga," ucap Yuliyanto.
Sebelumnya, Aditia Mulya, yang saat itu berpangkat AKP, dilarikan ke rumah sakit akibat terluka setelah mengamankan tawuran antarkelompok di Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri, tengah malam.
"Iya (menjadi korban pengeroyokan). Saat ini beliau (Kasat Reskrim) dirawat intensif di Rumah Sakit Dr Oen Solobaru," kata Kasubbag Humas Polres Wonogiri waktu itu, Iptu Suwondo kepada wartawan di Mapolres Wonogiri, Kamis (9/5/2019).
Saat kejadian, Aditia sedang melakukan pengamanan. Ketika itu Aditia mengenakan pakaian preman dan terpisah dari rekan polisi lainnya. Pada Senin (13/5/2019), Kondisi Aditia Mulya sempat stabil. Dia batal berobat ke Singapura.
Dikhawatirkan dipindahkannya pasien ke Singapura justru akan memperparah kondisinya. Keluarga pun memilih bertahan di RS dr Oen sampai kondisinya membaik.
Pada Rabu (15/5/2019), Aditia Mulya telah dirawat selama tujuh hari di RS dr Oen Solobaru, Sukoharjo. Perwakilan dokter Singapore General Hospital (SGH) datang memeriksa Aditia.
Dia adalah dr Yohanes, yang merupakan dokter di RS SOS, Jakarta. Dia masuk ke ruang ICU ditemani Wakapolda Jawa Tengah saat itu, Brigjen Ahmad Luthfi, Kabid Dokkes Polda Jateng saat itu Kombes Tri Yuwono, dan beberapa kapolres wilayah Solo Raya.
Keluar dari ruang ICU, Ahmad Luthfi mengatakan rencananya Aditia akan dikirim Singapura agar bisa mendapatkan perawatan maksimal. Dia menyebut kondisi Aditia sudah menunjukkan hasil positif.
Minggu (16/5/2019) Aditya Mulya diberangkatkan dari RS dr Oen Solobaru, Sukoharjo, menuju Singapura via Bandara Adi Soemarmo, Solo. Rombongan dikawal oleh Patwal Polresta Surakarta dan Polres Sukoharjo.
Polisi menetapkan sembilan orang sebagai tersangka kasus pengeroyokan Aditia Mulya Ramdhani pada Rabu (29/5/2019). Satu di antaranya masih di bawah umur.
Sembilan orang itu masing-masing berinisial DFR, AP (17), P, ER, AAH, HPA, S, A, dan JN. Kecuali AP, delapan tersangka dilakukan penahanan.
Sementara itu, jumlah keseluruhan tersangka ada 25 orang. Dari jumlah itu, 15 di antaranya ditahan dan 10 lainnya tidak ditahan lantaran masih di bawah umur.
Tersangka kasus pengeroyokan Aditia Mulya Ramdhani kemudian bertambah. Ada tiga orang lagi yang menyusul menjalani proses hukum.
Ketiga tersangka, sebut Kapolres, juga menjalani proses hukum seperti sembilan tersangka sebelumnya.
Menurut keterangan para tersangka baru, mereka tidak tahu bahwa korban yang saat itu menjabat Kasat Reskim Wonogiri adalah polisi. Korban dikira salah satu kelompok silat yang sedang mereka cari. Terlebih Aditia saat kejadian mengenakan pakaian preman.
Pada Jumat (18/10/2026) Aditia Mulya belum pulih. Bahkan alat bantu masih harus terpasang.
Meski tak lagi dirawat di Singapura, Kompol Aditia tetap menjalani perawatan intensif di rumahnya, Perumahan Taman Sari Hills, Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, di Blok D05/11.
Di salah satu kamar, ia terbaring dan dipasangi alat bantu napas dan alat untuk memasukkan nutrisi makanan. Menurut keluarga, Aditia sudah mulai bisa memberikan respons saat diajak berkomunikasi.
Dua tahun berselang, Kondisi Aditia Mulya Ramdhani belum membaik. Sang istri Dewi Setyawati mengatakan terjadi kerusakan pada otak suaminya yang mengganggu saraf motoriknya.
Selama hampir dua tahun, suaminya hanya terbaring di tempat tidur. Bahkan Kompol Aditia, sebut Dewi, belum bisa merespons kontak mata dengan baik, walaupun sudah menjalani terapi stem cell di Rumah Sakit Islam Sultan Agung, Semarang, Jawa Tengah. Hingga akhirnya Kompol Aditia meninggal dunia.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/dal)