Pramono Kukuhkan 2 Pelajar Duta Antihoaks, Perkuat Literasi Digital
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengukuhkan dua Duta Antihoaks Jakarta 2026 untuk memperkuat literasi digital dan mencegah penyebaran informasi palsu di kalangan pelajar. Kedua duta tersebut akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan edukasi dan kampanye digital selama satu tahun ke depan.
Pengukuhan berlangsung di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Senin (2/11). Dua pelajar yang terpilih yakni Winda dari SMAN 68 Jakarta dan Muhammad Ibrahim Gumay dari SMAN 71 Jakarta.
Keduanya berhasil terpilih dari 356 peserta yang berasal dari 119 SMA negeri di Jakarta. Mereka nantinya bertugas mengajak generasi muda lebih kritis dalam menerima, memeriksa, dan menyebarkan informasi di ruang digital.
Pramono mengatakan keterlibatan anak muda dalam gerakan ant hoaks menjadi penting mengingat aktivitas generasi tersebut sangat dekat dengan media sosial dan perkembangan teknologi.
"Apalagi, mereka sehari-hari sangat dekat dengan media sosial dan menjadi bagian dari ekosistem digital. Acara ini juga untuk melibatkan anak-anak muda dalam berpikir kritis terhadap apa yang terjadi sebenarnya," ujar Gubernur Pramono.
Menurut Pramono, tantangan masyarakat di era digital bukan lagi sebatas mendapatkan akses terhadap teknologi. Kemampuan memilah informasi yang benar dan mengenali berita bohong juga menjadi hal yang tidak kalah penting.
Terlebih, informasi kini dapat menyebar dengan cepat melalui berbagai platform digital. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati sebelum mempercayai maupun membagikan suatu konten.
Pramono mengungkapkan Jakarta berhasil meraih nilai tertinggi secara nasional dalam Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 dengan skor 56,97. Meski demikian, capaian tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengenali dan menangkal hoaks.
Pemprov DKI Jakarta, kata Pramono, telah menyediakan layanan Jalahoaks sebagai sarana pemeriksaan fakta dan klarifikasi informasi. Masyarakat diharapkan memanfaatkan layanan tersebut ketika menemukan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah memiliki Jalahoaks sebagai sarana pemeriksaan fakta dan klarifikasi informasi. Kami ingin masyarakat memanfaatkan layanan ini ketika menemukan informasi yang belum jelas kebenarannya. Jangan sampai informasi yang belum terverifikasi justru telanjur menyebar dan menimbulkan keresahan," tegasnya.
Pramono berharap para Duta Antihoaks Jakarta 2026 tidak hanya menjalankan tugas sebagai penerima penghargaan. Mereka juga diharapkan mampu menjadi penggerak literasi digital dengan mengajak teman sebaya dan komunitas sekolah membangun kebiasaan bermedia sosial secara kritis dan bertanggung jawab.
Selain menangkal informasi palsu, Pramono turut mendorong generasi muda memanfaatkan kreativitas digital untuk memperkenalkan Jakarta kepada masyarakat luas menjelang usia 500 tahun kota tersebut pada 2027.
"Terlebih, Jakarta akan memasuki usia 500 tahun pada 2027. Saya ingin anak-anak muda ikut memperkenalkan Jakarta melalui konten yang kreatif, positif, dan tentunya berdasarkan fakta," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta Marulina Dewi menjelaskan program Duta Antihoaks 2026 telah melalui sejumlah tahapan seleksi. Proses tersebut meliputi seleksi administrasi, pelatihan, hingga pengembangan proyek kampanye literasi digital.
Para peserta sebelumnya mengikuti in-house training dan pembekalan penyusunan kampanye yang digelar di Ancol, Jakarta Utara. Dari seluruh peserta, sebanyak 10 finalis kemudian terpilih untuk menjalankan proyek kampanye pada 28 Agustus hingga 25 September 2026.
Hasil kampanye tersebut selanjutnya dipresentasikan di hadapan dewan juri pada 29 September 2026 hingga akhirnya ditetapkan dua pelajar sebagai Duta Antihoaks Jakarta 2026.
Marulina menilai peran generasi muda dalam ekosistem digital semakin strategis. Mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga turut memproduksi konten dan membentuk opini di lingkungan pergaulan.
"Generasi muda tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga pembuat konten dan pembentuk opini di lingkungan pergaulannya. Karena itu, program Duta Antihoaks dirancang agar para pelajar dapat menjadi penggerak perubahan perilaku digital," tegas Marulina.
Selama satu tahun ke depan, kedua duta tersebut akan menjalankan program edukasi interaktif ke sejumlah sekolah bersama Diskominfotik DKI Jakarta dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI.
Program tersebut juga mencakup kampanye digital bulanan, pembentukan agen antihoaks di sekolah, serta edukasi terkait berbagai isu yang berkembang di Jakarta.
"Mereka akan mengunjungi sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi interaktif bersama Diskominfotik dan Komdigi RI. Kemudian, melakukan kampanye digital bulanan, lalu membentuk agen anti-hoaks sekolah, artinya menggandeng komunitas-komunitasnya untuk ikut bersama dalam kegiatan ini dan memberikan edukasi berbasis isu-isu di Jakarta," ujar Marulina.
(ory/ory)