Pernyataan Rauball ini semakin menambah kisruh di badan sepak bola dunia tersebut. Sebelumnya, terjadi perbedaan pendapat di antara Hakim Komite Etik Hans-Joachim Eckert, dan pengacara dari Amerika Serikat Michael Garcia yang menyelidiki kasus tersebut.
Baru-baru ini Garcia mengkritik Eckert, setelah hakim asal Jerman tersebut membebaskan Rusia dan Qatar dari segala dugaan suap. Menurut Garcia, FIFA telah salah menginterpretasikan hasil investigasi yang dilakukannya selama 18 bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai solusi, dua hal harus terjadi. Tidak hanya publikasi keputusan komite etik, tetapi juga hasil penyelidikan Garcia. Jadi semuanya menjadi jelas dan kita dapat mengerti bagaimana hasil tersebut muncul."
"Salah satu opsi yang harus dipertimbangkan secara serius adalah UEFA meninggalkan FIFA," ujar Rauball melanjutkan.
Komedi Kelas Kakap
Kritikan kepada Eckert dan FIFA juga datang dari kepala komunikasi pencalonan Australia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, Bonita Merslades.
"Satu-satunya yang mendapatkan nilai bagus dalam laporan Eckert adalah FIFA. Dikatakan keputusan mereka terkait pemilihan Qatar dan Rusia merupakan keputusan yang tepat, dan bahkan terdapat kalimat yang menyatakan Sepp Blatter melakukan pekerjaan yang sangat bagus. Itu seperti komedi kelas kakap," ujar Merslades seperti yang dilansir dari The Guardian.
FIFA sendiri telah mengkonfirmasi pada Jumat (14/11) malam lalu, telah menerima pemberitahuan formal mengenai langkah Garcia yang akan membawa hasil laporan Eckert kepada komite banding.
Garcia yang menyerahkan laporannya sebanyak 430 halaman kepada Komite Etik FIFA, menyatakakan kekecewaannya satu jam setelah Kesimpulan FIFA muncul.
Berdasarkan keputusan FIFA tersebut, mereka menyatakan baik Qatar dan Rusia tidak bersalah dan dibebaskan dari tuduhan suap, meski disebutkan juga beberapa individu dapat terkena hukuman karena melakukan hal yang tidak etis.