"Saya berbicara kepada pemain amatir dan profesional, suporter, serta orangtua yang anaknya bermain dan mencintai sepakbola. FIFA kini menjadi bahan lelucon. Kami semua mencintai sepakbola, tetapi tidak menyukai bagaimana itu dijalankan."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Inspeksi Pencalonan Piala Dunia 2018 dan 2022, Harold Mayne-Nicholls, serta mantan presiden asosiasi sepakbola Inggris (FA), David Triesman juga diperkirakan akan hadir.
"Ini juga merupakan langkah pertama ketika politisi, pemain, suporter, dan organisasi lainnya akan bersama-sama mengkampanyekan perubahan," ujar Collins.
"Kami tidak berminat membicarakan apa yang salah di FIFA, karena kami semua tahu apa yang salah.
"Sejak pemilihan presiden (FIFA) pada 2011, kami semua dijanjikan perubahan. Namun FIFA telah menunjukkan bahwa mereka tidak mampu mereformasi diri sendiri. Tetapi kita juga tahu bahwa masalah FIFA jauh lebih besar dari itu."
Collins juga mengkritik bagaimana FIFA menyikapi permasalahan mengenai laporan Michael Garcia terkait dengan tuduhan korupsi yang membayangi terpilihnya Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah Piala DUnia 2018 dan 2022.
"Seperti keputusan Rusia dan Qatar, kisruh disekitar laporan Garcia menunjukkan bahwa demokrasi, transparansi, dan akuntabilitas telah lama digantikan oleh korupsi, kesalahan menejemen, dan juga kepentingan pribadi," ujar politisi berusia 40 tahun tersebut.
"Kami ingin melihat sepakbola dipimpin oleh orang yang membuat keputusan dan mengambil keputusan dengan cara yang transparan, serta orang yang mementingkan kepentingan olahraga." (mar/vws)