Fahri kemudian menyatakan bahwa seharusnya BOPI tidak boleh memberikan rekomendasi (liga) dan yang berhak hanyalah pihak kepolisian dengan pertimbangan keamanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetapi bukan melawan kegiatan bisnis," ujarnya.
Sebagai respons, 18 klub melaksanakan Deklarasi 20 Februari di Bandung yang menyatakan bahwa mereka memerintahkan PT Liga untuk mengabaikan syarat BOPI dan agar PT Liga menyusun jadwal baru dalam masa transisi.
Sekertaris Jendral PSSI, Joko Driyono, pun menyurati Sekertaris Jendral FIFA, Jerome Valcke, untuk menceritakan masalah tersebut, sementara Ketua Umum PSSI pada 22 Februari menyurati DPR untuk meminta audiensi terkait penundaan liga.
Baik Fahri, maupun Ketua Komisi X, Teuku Riefky Harsya, yang mewakili pihak DPR dalam pertemuan tersebut, melihat bahwa secara umum Kemenpora berniatan baik.
"Usul saya pribadi, ajak Menteri dan (atau BOPI) berkomunikasi agar ini (ISL 2015) jalan terus," ujar Fahri.
Fahri juga menawarkan bantuan untuk memfasilitasi klub-klub untuk bertemu dengan BOPI untuk mencari solusi masalah tersebut.
"Kami peduli dengan persepakbolaan Indonesia. Apa yang bisa kami lakukan, akan kami lakukan. Kami mengerti ini menyangkut banyak orang dan sektor lain," katanya.
Namun Fahri menegaskan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan rekomendasi, kecuali soal undang-undang. "Kalau perlu, kami profesional saja untuk membuat undang-undang terkait hal ini. Saya peduli dengan bapak-bapak, ini (ISL 2015) kan legal.
"Lama-lama, semakin bapak menganggap negara itu tidak ada, pasti semakin profesional," ucapnya.