Platini mendapat suara dari ke-54 anggota UEFA dan akan kembali memimpin otoritas sepak bola tertinggi di Eropa itu hingga empat tahun ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Platini juga mengungkapkan dukungannya kepada FIFA, yang akan melakukan pemilihan presiden pada 29 Mei mendatang. Platini menegaskan, UEFA akan bekerja sama dengan FIFA demi kebaikan 209 negara anggotanya di seluruh dunia.
Tantangan Kekerasan
Platini sendiri menyuarakan kekhawatirannya terhadap semakin meningkatnya kekerasan di stadion-stadion Eropa. Mulai dari kerusuhan perempat final Piala Yunani antara AEK Athens dan Olimpiakos, hingga pertandingan Liga Europa antara Feyenoord melawan AS Roma.
Selain itu, Platini juga menyoroti tindakan rasial suporter. Yang teranyar adalah tindakan suporter Chelsea yang melarang seorang warga negara Perancis kulit hitam naik kereta di Paris.
"Kita membutuhkan hukuman yang lebih keras di tingkat Eropa, dan juga berharap adanya pembentukan pasukan polisi olahraga Eropa," ujar Platini.
Platini sendiri pernah mengalami salah satu insiden kerusuhan suporter saat masih aktif bermain. Tiga kali peraih Ballon d'Or tersebut menjadi saksi hidup insiden Stadion Heysel pada 1985 , saat terjadi kerusuhan antara suporter Juventus melawan Liverpool yang memakan 39 korban jiwa.
Insiden tersebut berakibat semua klub Inggris mendapatkan sanksi hukuman larangan bertanding di Eropa dari UEFA hingga musim 1990/1991, dan didaulat sebagai momen terburuk dalam sejarah kompetisi Eropa. (har/har)