Di tengah jalan menuju kantor Kemenpora, rombongan La Nyalla mendapatkan kabar via layanan pesan singkat bahwa Imam tak berada di tempat. Namun, menurutnya, ia tetap meneruskan pergi ke kantor kementrian yang berada di area kompleks Senayan Gelora Bung Karno tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya pada Jumat (17/1) Menpora Imam Nahrawi telah mengeluarkan surat keputusan memberikan sanksi administratif berupa tidak mengakui seluruh kegiatan PSSI.
La Nyalla kemudian menuturkan keheranannya kepada langkah yang diambil Menpora.
"Yang jelas pengurus PSSI sudah dinyatakan sah oleh FIFA. Semua berlangsung demokratis dan transparan. Saya mendapat ucapan selamat dari FIFA karena FIFA tidak menganggap adanya pembekuan," lanjutnya lagi.
Dalam surat keputusan sanksi, Menpora juga menyatakan bahwa pemerintah akan membentuk Tim Transisi yang akan mengambil alih hak dan kewenangan PSSI sampai dengan terbentuknya kepengurusan baru.
Menpora pun menetapkan bahwa jalannya kompetisi dan keberlangsungan tim nasional akan berada di bawah tanggung jawab Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olahraga Indonesia (KOI).
La Nyalla menilai keputusan tersebut adalah tindakan yang liar sehingga ia siap untuk menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Kemenpora offside. Semua yang dilakukan Kemenpora offside. Lucu pengurus atas dibekukan, bawah dirangkul. Ini memecah belah. Kemenpora sudah melakukan abuse of power. Apakah caranya revolusi mental seperti ini?"
"Saya sudah diberitahu KO dan KOI bahwa mereka menolak melakukan supervisi jalannya kompetisi. Setelah ini saya punya agenda ke kantor KONI, KOI, dan Menko Kesra," kata La Nyalla. (har/vws)