Dan dampak tak adanya kompetisi sudah dirasakan oleh para pelaku sepakbola, seperti pemain maupun pelatih. Rahmad pun menyebutkan bahwa para pemain Persija pun sudah mulai melakukan upaya penyelamatan kondisi finansial mereka dengan menjual barang-barang pribadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun Alhamdulillah saya masih ada kerjaan lain, saya juga kan masih anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia). Kadang ada pula permintaan coaching clinic," tutur Rahmad yang malang melintang di berbagai klub besar Indonesia.
"Skema pembayaran hingga bulan Mei sudah diberikan. Negosiasi berikutnya ketika ada turnamen pramusim, namun hal itu tidak jadi dilakukan karena turnamen pramusimnya batal," ujar Rahmad yang juga pernah menjadi pelatih tim nasional ini.
Dengan kondisi kick-off kompetisi yang belum jelas, maka nasib Rahmad dan para pemainnya saat ini pun menggantung. Persija dan klub-klub besar lainnya pastinya juga ingin lebih dulu mendapat kejelasan soal kompetisi sebelum kembali membicarakan kontrak.
"Yang pasti status klub sudah berhenti, putus kontrak. Kita belum tentukan langkah kemana."
"Kita tunggu keputusan lebih lanjut dari manajemen klub," ucapnya.
Kesempatan Bermain
Lebih lanjut, Rahmad sendiri kecewa Indonesia terkena sanksi FIFA karena menurutnya hal itu bisa dihindari.
"Pastinya kecewa karena sanksi itu akhirnya jatuh. Penyelesaian masalahnya sederhana, karena untuk membangun sepak bola bukan dengan permusuhan tapi dengan sportivitas," tutur Rahmad.
Karena itulah, kerugian yang diterima oleh para pesepakbola Indonesia bukan hanya terkait segi finansial, melainkan juga soal hasrat bermain sepakbola.
"Makanya kalau ada pemain bermain tarkam (antar kampung) itu sebenarnya ingin mencari sesuatu yang hilang, ingin mengekspresikan diri di lapangan," katanya. (ptr/ptr)