Namun, proses tersebut tak semudah yang dibayangkan. Para tertuduh bisa saja melawan secara hukum dan kemudian menunda, atau bahkan terlepas, dari jerat ekstradisi karena beberapa alasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara pertama, para tertuduh bisa memberi alasan bahwa penangkapan tersebut dilakukan atas motif politik ketimbang penegakan hukum. Argumen legal ini sangat penting, karena perjanjian ekstradisi antara AS-Swiss menyatakan bahwa ekstradisi tak mungkin dilakukan jika tuduhannya bermotif politik.
Selain itu, proses penangkapan yang dilakukan hanya beberapa hari sebelum pemilihan presiden FIFA juga bisa terlihat sebagai motif politik untuk menjatuhkan petahanan Sepp Blatter.
Sementara itu, pembelaan kedua adalah melalui intervensi diplomatis melalui Kedutaan Besar masing-masing negara tertuduh. Pasalnya, dari ketujuh petinggi FIFA yang ditangkap, hanya satu yang memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat, yaitu Euginio Figueredo yang memegang kewarganegaraan ganda.
Jika Kedubes mengintervensi dan para tertuduh dikembalikan ke negaranya masing-masing, maka proses ekstradisi akan menjadi lebih sulit.
Cara inilah yang diambil oleh tertuduh Jack Warner yang memilih menyerahkan diri di negaranya sendiri, Trinidad dan Tobago, sehingga seluruh proses hukumnya akan berlangsung di negara tersebut ketimbang Amerika Serikat.
Argumentasi ketiga adalah dengan menyatakan bahwa proses penangkapan adalah suatu jebakan. Pengadilan Swiss memang memiliki rekam jejak pernah menolak ekstradisi ketika terbukti bahwa tertuduh memasuki negara Swiss karena proses jebakan.
Para petinggi FIFA sendiri memang datang ke Swiss atas alasan yang jelas, yaitu mengikuti Kongres FIFA. Namun, para tertuduh ini bisa mengatakan bahwa aksi pihak kepolisian yang menggeledah hotel tempat mereka menginap sebagai aksi jebakan. (vws)