Akan tetapi, menurut Cheppy, sejumlah klub ragu untuk terlibat dalam turnamen tersebut karena merasa khawatir dengan sanksi PSSI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Faktanya sampai sekarang mereka juga tidak terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Jadi klub-klub harusnya tidak perlu takut."
"Ada beberapa klub yang berkali-kali minta bantuan kami (kekhawatiran terhadap sanksi PSSI)," ujar Cheppy melanjutkan. "Tapi saya selalu mengatakan ini (Piala Kemerdekaan) merupakan sebuah event resmi yang digelar oleh pemerintah."
"Jadi tidak ada alasan bagi klub-klub untuk takut pada ancaman pihak lain. Masa takut sama lembaga yang skalanya lebih kecil dari pemerintah?
Kompetisi dari Berbagai Kasta Sepak Bola Nasional
Selepas dari turnamen Piala Kemerdekaan, Cheppy juga menyatakan Tim Transisi bersiap untuk mengadakan turnamen-turnamen lanjutan.
Apalagi, diakui Cheppy, ada beberapa klub Liga Nusantara yang sebenarnya ingin terlibat di Piala Kemerdekaan, yang belum dapat difasilitasi pihak Tim Transisi.
"Kami mohon maaf bagi klub-klub dari Liga Nusantara, yang kompetisinya belum dapat bergulir dan belum dapat terlibat di Piala Kemerdekaan," ujar Cheppy.
"Tetapi nanti di Piala Presiden mereka semua nanti dapat terlibat, karena kompetisi itu akan melibatkan semua klub dari berbagai tingkatan. Sistemnya seperti Piala FA di Inggris."
Setelah turnamen Piala Kemerdekaan, Tim Transisi memang menjadwalkan sejumlah turnamen lain seperti Piala Presiden, Piala TNI-Polri, Piala Kapolri, hingga Piala Pemuda.
"Nantinya akan ada Piala Presiden yang direncanakan diikuti 30 hingga 40 klub dan melibatkan dari klub amatir, divisi utama, hingga LSI," ujar Cheppy menjelaskan.
"Setelah itu ada Piala TNI-Polri, yang lingkupnya kecil saja. Itu nanti akan diisi empat hingga delapan klub LSI. Sedangkan Piala Kapolri nanti formatnya akan mirip dengan Piala Presiden."
"Selain itu ada juga permintaan Piala Pemuda untuk khusus tim U-21, yang melibatkan tim-tim dari seluruh Indonesia," ujar Cheppy melanjutkan.
(vws)