Nasiruddin, kata Aristo, dua tahun lalu pernah dihukum PSSI karena ketidakmampuan memimpin pertandingan dan indikasi pengaturan hasil pertandingan. Namun Aristo mengaku tidak ingat secara rinci waktu dan peristiwa yang mengakibatkan Nasiruddin dihukum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aristo kemudian menyatakan, penangkapan Nasiruddin menunjukkan bahwa pengaturan skor tidak bisa ditangani oleh induk sepak bola saja.
"Sepuluh tahun di Indonesia, dia (Nasiruddin) tidak boleh berpraktek apapun. Tapi kalau dia jadi perantara kan PSSI tidak bisa menjangkau, yang bisa hanya penegak hukum. Makanya, bareng-bareng lah semuanya, seperti Singapura menangkap pelaku pengaturan skor. Kalau Indonesia malah saling menyalahkan."
"Coba lihat BS kemarin, tidak ada ujungnya."
Menurut Aristo, PSSI menyayangkan ada mantan insan sepak bola yang mencoba merusak permainan sepak bola.
"Ini menjadi pembelajaran yang pas agar seluruh pihak di Indonesia dapat saling bekerja sama menangkap para pelaku pengaturan skor," katanya.
Mengutip dari Reuters, Nasiruddin berkonspirasi dengan dua orang lainnya untuk memberi pengurus tim Timor Leste, Orlando Marques Henriques Mendes, uang sejumlah S$15 ribu untuk memastikan Timor Leste mengalah pada laga melawan Malaysia pada 30 Mei lalu.
Selain Nasiruddin, seorang warga negara Singapura Rajendran "Pal" Kurusamy dan seorang warga negara Timor Leste Moises Natalino De Jesus juga ditangkap polisi pada 31 Mei lalu. (vws)